Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / ESAI / The Last of Gaoker

The Last of Gaoker

Kerut di mukanya, menegaskan bahwa usia tak dapat berdusta. Kakek itu memang sudah memasuki ambang senja. Usianya lebih dari 70 tahun. Namun usia seringkali hanyalah deretan angka yang tidak selalu identik dengan marwah seseorang. Umur boleh sudah lanjut, tapi semangat tetap belia. Itulah yang terjadi pada sosok Abah Rukmin, seniman Gaok asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kawan-kawan gaoker (pe-gaok) sebayanya sudah pada mangkat. Sementara dari barisan muda yang berminat melestarikan seni Gaok, belum begitu nampak spiritnya. Maka layaklah bila Bah Rukmin disebut sebagai The last of gaoker.

Dalam Kamus Bahasa Sunda, karangan R.A. Danadibrata, kata gaok mengandung arti 1) suara bunyi gagak. Tapi istilah gaok dalam konteks kesenian, tidak merujuk pada arti leksikal, melainkan pada artifisial. Gaok adalah jenis kesenian yang menyerupai suara gagak atau memiliki fungsi untuk memanggil. Nafas Gaok kini mulai tersengal-sengal, amat bergantung pada daya tahan dan panjang usianya Bah Rukmin. Soal loyalitas dan dedikasi, tak perlu meragukan seniman yang sehari-harinya berladang dan memiara kambing itu.

Bila Bah Rukmin mangkat, maka semoga tulisan ini menjadi penggugah bagi generasi muda khususnya di Majalengka, untuk bangkit mempertahankan Gaok sebagai salah satu harga dan jati diri warga Majalengka. Walau kita yakin, tanpa Gaok, Majalengka akan tetap ada.

Bah Rukmin lahir di desa Kulur, 70 tahun silam, telah membaktikan hidupnya untuk mempertahankan kesenian Gaok sejak usia dini. Ia adalah seniman gaok generasi ke-3 yang sampai sekarang masih aktif dan produktif memperkenalkan kesenian tersebut. Sebagai pemimpin kesenian Gaok, ia pernah menggagas pelatihan ngagaok di desanya. Tapi hasilnya nihil kala itu. Namun semangat “tempur” Bah Rukmin tetap menggebu-gebu. Hal ini nampak dari cara Bah Rukmin dalam mentransformasikan Gaok. Ia melakukan adaptasi dengan kenyataan zaman. Gaok yang sekarang ditanggap, tidak lagi menggunakan songsong dan buyung, tapi diiringi gamelan wayang, ditambah dengan sinden sebagai selingan, supaya nilai entertainment pada pertunjukan gaok tidak vacum dan stagnan.

Khusus untuk sinden, dimunculkan seiring dengan personil ngagaok yang hanya menyisakan Bah Rukmin, dengan suara dan nafas yang mulai terengah. Maka sinden ini difungsikan untuk membantu dan mengisi sela-sela istirahat Bah Rukmin dalam bercerita. Tak luput, saat sinden menyanyi beberapa orang dari rombongan kesenian gaok ikut menari. Hal ini dilakukan untuk mencairkan situasi, agar penonton tidak terjangkit kebosanan.

Patut kita tiru dari sikap Abah Rukmin —selain usahanya mempertahankan seni gaok—adalah upayanya dalam memajukan seniman-seniman yang ada di desanya. Dengan upaya transformasi ini, para seniman khusunya yang ahli nabeuh gamelan, kreativitasnya dapat tersalurkan, selain tentu mendapat pemasukan seiring adanya panggilan untuk pementasan. Bagi Bah Rukmin, kesenian bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga merupakan kerja sosial.

Arif Abdilah, Mahasiswa Pasca Sarjana dan Mantan Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung. Menjadi penafsir filosofi dan artistik untuk pertunjukan Ngagorowokeun Gaok.

About djavar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 5 =