Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / prosa / Teater Dewala

Teater Dewala

SEPULUH menit sehabis menyaksikan Indepedence Day, Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Sebel gua, lagi-lagi propaganda Amerika. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!”

“Tapi Prabu, saya tidak melihatnya dari sisi itu. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari luar angkasa, dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga.

“Dalam dunia pewayangan, tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Dewa jangan diberontak, mereka sponsor kita kok.”

Sesaat hening. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Melewati Alun-alun Bandung, tiba-tiba Kresna, gerombolan Pandawa, dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja.

Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG, begitu nge-pop. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal, “Kramotak, kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem, tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.

“Siape ni nyang ngulang tahun, mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan.

“Bukan mau nraktir, BM dong!” balas Kresna.

About djavar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 3 =