Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / ESAI / Nusantara Berkisah

Nusantara Berkisah

Hidup bukan sekedar makan dan minum, dan memenuhi hajat lain yang fisikal. Abram Maslow menyebut empat tingkat pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Setelah urusan yang fisikal selesai, manusia akan memasuki era menabung, mengoleksi, dan mengaktualisasikan dirinya. Aspirasi aktualitatif ditempuh dengan cara yang berbeda-beda untuk tiap orang. Berkesenian, berada pada ranah aktualisasi.

Maka ber-Gaok ria kala itu, menjadi salah satu cara untuk manusia hadir di luar yang fisikal belaka. Selalu ada manusia yang mengutamakan martabat dari sekedar memikirkan isi perut dan menyalurkan hasrat tubuh lainnya. Teramat lagi, Gaok adalah seni tuturan untuk mewartakan keberhasilan atau kepedihan, kegalauan dan keresahan.
Lakon-lakon seperti yang ditulis oleh Iliyad, Homeros, Abivasa, Valmiki, yang anonimus, adalah sederet lakon dari waktu ke waktu untuk bertutur tenyang eranya masing-masing. Di Nusantara, seni bertutur ini sungguh meruyak. Tiap etnis bahkan sub-nya masing-masing, bisa diprediksi memiliki karya seni tutur.

Hal yang terkandung pada seni tradisi bertutur adalah kearifan lokal masing-masing daerah, karena karya seni dilahirkan, tak bisa dijauhkan dari geo-antropologinya. Seni bertutur “Nandong” dari pedalaman Pulau Simeulue, nun di Nanggroe Aceh sana, bukan sekedar kesenian yang dilengkingkan. Syair-syair yang terkandung di dalamnya, banyak berisi kabar pahit yang bermanfaat. Misalnya pada syair di bawah ini.
Enggel mon sao surito (dengarlah suatu kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)

Unen ne alek linon (Gempayang mengawali)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)

Angalinon ne mali (jika gempanya kuat)
Oek suruk sauli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat)

Ede smong kahanne (itulah tsuanmi namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)

Smong dumek-dumek mo (tsunami air mandimu)
Linon uwak-uwakmo (gempa ayunanmu)
Elaik keudang-keudangmo (petir kendang-kendangmu)
Kilek suluh-suluhmo (halilintar lampu-lampumu)

Sungguh memedihkan, satu demi satu kesenian tradisi Nusantara pudar dicecar gejolak zaman. Pemerintah Jawa barat misalnya, merilis bahwa kesenian tradisional teater dan sandiwara rakyat dari rumpun seni tutur tradisional, menjadi bagian dari 10 persen kesenian tradisional yang punah. Tidak kurang dari 40 kesenian tradisional Jawa Barat dari 243 jenis kesenian, terancam punah.

“Ada banyak penyebab punahnya kesenian tradisional di Jawa Barat. Selain karena tokohnya meninggal dunia, kesenian sudah tidak mendapat tempat ataupun tidak ditanggap masyarakatnya serta kalah dengan kesenian yang berkembang saat ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, M.M., dalam paparanya pada acara Forum Diskusi Wartawan Bandung, bertempat di Toko Yu, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (22/2).

Sedangkan kesenian yang terancam punah, ungkap Nunung, kebanyakan berupa seni teater dan sandiwara rakyat, reog, masres dan sebagainya. Dikatakannya, jika tidak ada upaya dari masyarakat maupun pemerintah daerah, seni yang terancam punah ini justru akan punah. Oleh karena itu, lanjut dia, Disparbud Jabar melalui Balai Taman Budaya Jabar melakukan program pewarisan seni dan revitalisasi seni.

Untuk menangani kepunahan sejumlah kesenian tradisional, menurut Nunung, Disparbud Jabar melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melakukan program revitalisasi dan pewarisan. Program pewarisan yang diselenggarakan sejak tahun 2005 hingga 2011 telah merevitalisasi 11 kesenian tradisional dan tahun 2012 ada tiga kesenian yang masuk program revitalisasi dan 13 kesenian masuk program pewarisan.

Kesenian tradisional yang berhasil direvitalisasi, meliputi kesenian Topeng Lakon (Kab. Cirebon), Gondang Buhun (Kab. Ciamis), Angklung Badud (Kota Tasikmalaya), Parebut Seeng (Kab. Bogor), Goong Kaman (Kab. Bekasi), Cokek (Kab. Bekasi), Gamelan Ajeng (Kab. Karawang), Topeng Menor (Kab. Subang), Randu Kentir (Kab. Indramayu), Seni Uyeg (Kota Sukabumi) dan Ketuk Tilu Buhun (Kota Bandung). “Dari kesebelas kesenian yang punah dan nyaris punah, kesenian Uyeg pada masa kerajaan Padjajaran abad ke 15 yang paling tua, dan tahun ini ada empat yang masuk program revitalisasi,” terang Nunung.

Selain kendala tokoh maupun pelaku seni, menurut Nunung, kendala anggaran menjadi penyebab tersendatnya upaya-upaya pelestarian kesenian tradisional. “Setiap tahunnya Disparbud melalui BPTB Jabar baru hanya mampu menjalankan program revitalisasi antara tiga hingga lima kesenian tradisional, sementara program pewarisan yang baru dilaksanakan tahun 2011 hingga tahun ini direncanakan 23 kesenian,” ujar Nunung.

Namun demikian, menurut Nunung program pewarisan dan revitalisasi yang dilaksanakan Disparbud Jabar melalui BPTB Jabar selain berhasil menyelamatkan kesenian tradisional, juga mengangkat tokohnya serta menghidupkan kembali perekonomian para pelakunya.

Dicontohkannya kesenian tradisional Parebut Seeng yang kini sudah difestivalkan untuk menumbuhkan rasa cinta berkesenian di masyarakat, juga mampu menghidupkan pengrajin alat kesenian yang dipergunakan serta lainnya.

About djavar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − eleven =