Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / ESAI / Dokumentasi A La Gaok

Dokumentasi A La Gaok

Candi Borobudur bukan sekedar rumah ibadah kaum Brahmin. Ia sekaligus menjadi tetengger dan perpustakaan untuk mendokumentasikan pencapaian peradaban. Setiap inci bangunan, dan relief-relief yang diukirkan padanya, mengandung kisah yang sayangnya, tidak semua warta padanya dapat kita baca makna leksikonnya. Leluhur membangun pustaka melalui simbol dan sampiran.

Begitu juga teater-teater tutur di era silam, adalah capaian estetik untuk mengkomunikasikan aktivitas antropologi. Peradaban teks kala itu masih jarang pemeleknya. Sehingga seni mendongeng, apakah kita menyebutnya sastra lisan atau teater tutur, merupakan primadona kesenian sesuai “zeits geits” (semangat zaman).

Seni Gaok yang bermula merupakan sastra lisan, atau dalam sastra Sunda disebutnya mamaos (membaca teks) atau wawacan, dari kata wawar ka nu acan (memberi tahu kepada yang belum mengetahui), jelas bukan sekedar kesenian untuk kepentingan ritual atau hajatan. Lakon-lakon pada teks Gaok, semisal “Simbar Kancana” adalah dokumentasi tentang kudeta konspiratir, sekaligus media pembelajaran moral yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat kala itu.

Etimologi Gaok diyakini berasal dari kata “gorowok” yang artinya berteriak. Pada sekuel-sekuel tertentu, terutama pada klimaks konflik, teks itu diteriakan dengan suara tinggi hingga si pelantun mencapai suasana trance atau katarsis. Kesenian-kesenian pra-soundsystem, memang banyak mengandalkan suara melengking untuk menyeduksi daya aesthetic para penonton. Soal teriak ini dapat kita temui pula pada teater tutur lain di Nusantara, sebut misalnya Bakaba dari Minang, Beluk dari Sunda, Nandong dari Simeulue.

Dulu, Gaok dipresentasikan dengan cara memaparkan babad tanpa iringan musik. Pada perkembangannya, elemen musik mulai masuk pada prolog, epilog, dan penanda perubahan sekuel.

Gaok adalah kesenian kolektif yang dimainkan antara empat hingga enam orang lelaki. Mereka mengenakan baju kampret atau toro dengan kepala diikat bandana. Narasi utama dibawakan oleh dalang, dan pelantun yang lain ambil bagian pada sekuel-sekuel tertentu, atau dialog-dialog antar-tokoh. Seandainya ada pemain perempuan, Gaok bisa dikemas sebagai sandiwara radio.

Babad dalam Gaok yang terkenal antara lain Sarmun, Cerita Umar Maya, Sulanjana, Barjah. Ada beberapa babad yang sudah dituliskan, antara lain Nyi Rambutkasih dan Talagamanggung, keduanya ditulis oleh E. Wangsadihardja (alm.).

Menurut Arif Abdilah, yang mengkaji dan menafsir Gaok untuk kepentingan pertunjukan Ngagorowokeun Gaok, seni tutur ini nyaris punah. Di Majaléngka tercatat hanya dua grup, yaitu di Désa Kulur dan di Burujul. Di Kulur, pelestarian Gaok dilakukan oleh E. Wangsadihardja. Setelah ia meninggal pada 2006, Gaok dilanjutkan oleh para penerusnya, yaitu Sukarta dkk. Di Burujul, pewarisnya yang paling paham tinggal Abah Rukmin, dan satu anak muda bernama Arif.

Beruntunglah ada beberapa mahasiswa program studi magister yang meneliti Gaok untuk kepentingan tesis, di antaranya Nono Sudarmono dan Jafar Fakhrurrozy. Berangkat dari penelitian dua mahasiswa tersebut, Gaok dapat dipentaskan di Bandung dengan format yang lebih dinamis, baik dari unsur musik maupun entertainment-nya yang melibatkan para peraga tari dan drama. Sanggar Seni Panghegar menampilkan Gaok Kolaborasi di Gasibu Bandung dengan berangkat dari Tesis Nono Sumarno, sedangkan Jalan Teater mementaskan Gaok di Upi Bandung dengan titik berangkat dari tesis Jafar Fakhrurrozy.

Berdasarkan tesis Jafar hasil wawancara yang dilakukan dengan salah seorang dalang Gaok, Lurah Wana di kediamannya di desa Sindagkasih, 28 Februari 2014, Gaok mulai ada dan berkembang di Majalengka diperkirakan sejak masuknya Agama Islam di wilayah Kabupaten Majalengka, yaitu sekitar abad ke-15, ketika Pangeran Muhammad dari Cirebon berusaha menyebarkan ajaran Islam. Seni ini digunakan sebagai medium dakwah Islam. Gaok kemudian dikembangkan oleh salah seorang seniman yaitu Sabda Wangsaharja sejak 1920-an. Sejak saat itu Gaok berkembang dan mengalami masa kejayaan pada tahun 1960-an.

Gaok, sebagaimana juga seni tutur lainnya di Nusantara, mulai kalis karena kalah derap di tengah perabadan yang serba-cepat dan instan ini. Perlukah Gaok dilestarikan, atau kita dengan berbesar hati mengucapkan innalillahi… ?

Doddi Ahmad Fauji, mantan wartawan, kini menjadi aktivis seni-budaya dan Kepala Sekolah Kewajaran Bersikap.

About djavar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − nine =