Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / Puisi / DEKLAMASI DOA

DEKLAMASI DOA

Tuhan mati. Diganyang bandit televisi. Dicekal media bebal. Diberangus tikus-tikus rakus. Dibekap insan kurang adab.

Pada mulut seorang juru dakwah ayat Tuhan digadai rupiah. Digiring permintaan pasar yang mahabesar.

Pagi ini seperti sebelumnya, di balik sepotong peci dan seuntai serban dia mengobral dakwah.
Menjual ayat dengan harga murah. Menyulap mimbar jadi panggung pertunjukan. Berakting Menari. Menyanyi. Berkali-kali “stand up comedy”.

Dakwah mesti jenaka. Jenaka yang hiperbola. Jemaah harus terhibur. Wajib tertawa. Jika perlu hingga berlinang air mata. Agar kelak rupiah mengucur subur. Nama yang disandang pun kian masyhur.

Meski dalil dipelintir. Takacuh pada sanad; sahih; atau daif. Ayat Quran perawan. Membisu dalam mushaf. Sekadar penghias ruangan.

Dakwah cukup andalkan ilmu yang sejengkal. Dalil dangkal. Hanya sepenggal-sepenggal.

Lalu di ujung pertunjukan. Dia beraksi mendeklamasi doa. Tak ubahnya puisi. Mengolah intonasi. Mengatur mimik. Memainkan gestur. Mengundang kernyit keheranan. Dia lupa. Sengaja lupa. Tuhan mahadekat hanya senang dengan laku insan beradab dan takberlebihan.

#terpetik dari QS. Al A’raf: 55 (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.)

2016

About Redaksi

Check Also

EPITAF RINDU

Ini hari ke sembilan puluh sembilan Sejak pemilik kerling mata yang tajam mengucap rindu yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 8 =