Thursday , August 24 2017
Breaking News
Home / ESAI / Api Menyala Di Kepala

Api Menyala Di Kepala

Malam itu, sehabis reda hujan, api dinyalakan di atas kepala seorang aktor yang bercaping. Tak begitu besar kobarannya. Tapi nyala api di kepala itu memberi isyarat, pertunjukan akan sengit. Apalagi panggungnya diseting di lapangan terbuka, beratap langit telanjang. Bambu-bambu serta kayu “ngapurancang”, membentuk konstruksi imajinatif, memperkuat impresi tentang dunia liyan, tentang kejadian di kurun yang telah lama berlucutan.

Ya, pertunjukan berjuluk Ngagorowokeun Gaok malam itu berkisah tentang kudeta konspiratif di Kerajaan Talaga Manggung, salah satu kerajaan daerah di kawasan Galuh, di mana Kerajaan Galuh nanti ber-merger dengan Kerajaan Sunda melalui perkawinan politis pangeran (Sunda) dan putri (Galuh) mereka, sehingga terbentuklah imperium konsentris di pedalaman Priangan. Orang-orang menyebut kerajaan hasil unifikasi ini dengan Pajajaran. Talaga Manggung, Galuh, juga Pajajaran, telah begitu lama purna dari percaturan perdaban.

Jalan Teater bekerjasama dengan Titimangsa Foundation yang didirikan Happy Salma, mementaskan lakon Ngagorowokeun Gaok pada 6 dan 7 November 2015 di kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Lakon ini dinukil dari naskah wawacan seni Gaok yang menjadi kesenian khas Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Disutradarai Sahlan Mutjaba, pertunjukan berbahasa Sunda itu menggelinding sekira 150 menit.

Sebelum pertunjukan dimulai, penonton diarahkan untuk duduk pada tempat-tempat yang telah ditentukan. Posisi mereka ikut memperkuat impresi seting panggung. Penonton diberi topi caping, sehingga kehadirannya turut mendukung tata artistik. Dilihat dari kejauhan, penonton dan konstruksi panggung, nampak seperti lukisan impresionis dengan tema lansekap yang membentuk gunung dan lembah.

Seting panggung yang melibatkan penonton sebagai arsirannya, jarang dimanfaatkan teater modern yang identik dengan panggung prosenium. Pada pertunjukan ini bahkan penonton dilibatkan, yaitu pada adegan menari dan bermain musik. Penonton dipinjami alat musik “bangkong reang” dan “cicit cuit” yang mudah dimainkan.

Pertunjukan ini memang bisa dinisbatkan berkonsep teater arena, namun dalam kemasan yang lebih gado-gado.
Setelah semua penonton duduk tertib, dimulailah adegan yang sesungguhnya dengan pelapalan babad Kerajaan Talaga Manggung oleh sohibul hikayat atau dalang. Serluruh narasi yang dipaparkan sang dalang, dikemas dalam bentuk tembang dengan nada naik-turun, bahkan hingga melengking. Ada dua dalang yang manggung, yaitu Abah Rukmin selaku masetro seni gaok, dan Firman sebagai pewarisnya.

Menurut penyelenggara, Abah Rukmin yang sudah purna-sepuh, kini merupakan satu-satunya pelestari gaok yang masih bersetia, tentu bila ada yang “naggap”. Seni tutur atau tradisi mendongeng gaok, pernah begitu berdaulat di Majalengka. Dulu tentunya, sebelum aneka hiburan meruyak, dari yang instan hingga kelewat serius.
Kini gaok, sebagaimana begitu banyak seni tradisi di Nusantara, mendekati kepunahan. Alasannya cenderung klise, sudah kurang diminati masyarakat.
Sinopsis
Syahdan menurut sohibul hikayat, Kerajaan Talaga Manggung adalah negeri yang “gemah ripah loh jinawi”. Sang Raja memiliki dua anak, yaitu Raden Panglurah dan Putri Simbar Kancana. Sang putri sudah memasuki usia pernikahan. Guna mendapatkan suami terbaik, Raja menyelenggarakan sayembara adu kesaktian. Pemenangnya adalah Palembang Gunung.

Setelah menikah, ternyata Palembang Gunung dirasuki nafsu berkuasa. Ia pun melancarkan siasat untuk melenyapkan Raja Talaga Manggung. Ia meminta pusaka kerajaan bernama “Cis” dari sahabatnya, yaitu Centang Barang. Dengan Cis itulah Raja diperdaya.

Palembang Gunung mengumumkan pembunuh raja adalah Centang Barang. Tetapi Putri Simbar Kancana tidak begitu saja percaya. Ia mencari informasi, termasuk menginterogasi Centang Barang. Dari introgasi itu, titik terang menguar, bahwa otak kudeta adalah Palembang Gunung yang tiada lain suaminya sendiri. Ketika Palembang Gunung rebahan di pangkuan Simbar Kancana, dengan menggunakan tusuk konde, Simbar Kancana menikam leher suaminya yang sudah terlelap di pangkuannya. Ujung cerita, janda kembang itu menikah dengan salah satu Pangeran dari Galuh.
Peristiwa Panggung
Resiko paling kongkret dengan pertunjukan di area terbuka adalah teknis tata suara dan tata cahaya. Meskipun pertunjukan sudah didukung sound, masih terdengar suara-suara yang crawded karena persoalan mick yang kurang sensitif, atau si aktor tidak terlatih kesadaran ruangnya untuk merespons posisi mick yang digantungkan pada bambu.

Akibatnya, beberapa adegan penting, tidak terbangun suasana katarsisnya, misalnya pada adegan pembunuhan Palembang Gunung oleh Simbar Kancana, kurang terasa membius dan kurang dramatis, terutama di hari kedua. Dan, itu bersebab dari suara yang tidak fokus ke adegan penting tersebut.

Kendala teknis lainnya adalah tata cahaya yang juga tidak bisa maksimal sebagai penerang. Padahal penata cahaya Aji Sangaji yang sudah piawai dalam beberapa pertunjukan teater. Barangkali keterbatasan lampu menjadi kambing hitamnya.

Akting para aktor, terlihat beragam karena jam terbang yang memang berbeda. Candra Kudapawana yang berperan sebagai Palembang Gunung, adalah aktor yang memiliki vokal paling bernas untuk membawakan babad ini. Yumi Pratiwi yang membawakan Putri Simbar Kancana, dapat mengimbangi permainan Candra. Namun pola emosi dari kedua aktor ini masih belum benar-benar resiprokal apalagi sampai pada titik katarsis. Kiranya eksplorasi dan intensitas latihan masih kurang.

Yumi Pratiwi membenarkan proses latihan belum maksimal untuk mengeskplorasi berbagai kemungkinan akting yang paling optimal.

Secara keseluruhan, pertunjukan Ngagorowokeun Gaok berhasil membawakan babad, sebuah pentas yang jarang dihelat oleh grup teater modern. Mereka patut mendapat aplaus, karena telah berlaku seperti “Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlalui”. Mereka telah berusaha melestarikan seni tradisi yang nyaris punah, memberikan alternatif tontonan yang menuntun di sela berjibunnya tontonan kits, dan berusaha mengeksplorasi kemungkinan bentuk-bentuk teater modern.

Saya menikmati pertunjukan ini. Berkali-kali tertawa, terutama pada adegan Raja disiram dengan air. Tak jauh dari posisi Raja, banyak penonton di sana, sehingga ikut tersiram, dan si penyiram seperti menyengajakan menyiramnya sembarangan, sehingga penonton benar-benar tersiram.

Lantunan musik bernuansa tradisi juga memikat, dimainkan oleh Bobby Getih, Ridwan Saidi, Triya Nugraha, Novi, Dienal A., Idham Fadhil, Yosef Yogi, dan Naufalay, serta gerak ritmik tarian arahan koreografer Galih Mahara dan Indra Gandara, sampai-sampai ikut ngibing pada adegan hajatan.

About djavar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 20 =