Login User

 Berita

Tubuh-Tubuh Mireki Jasmine Okubo dan Ni Kadek Diah Kristin Natalia

Oleh : Jonathan Firdaus

Tubuh sepertinya tak pernah habis dikupas berbagai macam teori performance art. Mulai dari pembacaan antropologi budaya dan konsep tubuh sebagai etalase visual. Pada akhirnya, tubuh itu menjadi subject matter bagi senimannya.

Perhelatan international art festival yang diselenggarakan oleh Djagad Art House bertajuk "Apa Ini Apa Itu" di Lepang, Klungkung, Bali pada tanggal 29 - 31 Desember 2009 lalu membuka cakrawala baru bagi apresiator kesenian kontemporer. Sebuah peristiwa besar dimana 27 seniman dari enam negara menyajikan konsep seni membaca kosmologi ruang kultural.

Saya tertarik pada performa Ni Kadek Diah Kristin Natalia (24) seniman asal Bali dan Mireki Jasmine Okubo (22) asal Jepang. Kedua penari ini merespon dua karya seni instalasi dalam festival tersebut.

Diah dan Jasmine pertama kali merespon karya instalasi Wayan Sujana Suklu di Kubu, Banjar Lepang - salah satu situs perhelatan "Apa Ini Apa Itu" pada hari Selasa (29-12-2009). Seni instalasi bertajuk 'Merasakan ruang, Merasakan Angin' oleh Jasmine dan Diah 'dirasuki' permainan gesture tubuh kedua gadis tersebut. Pose-pose bak foto model kerap kali dipertontonkan kepada publik yang rata-rata masyarakat sekitar Lepang.

Hampir semua ruang pada karya seni instalasi Suklu dari bambu itu 'disentuh' dengan lembut oleh Diah Jasmine hingga pada ruang terdalam pada karya tersebut. Jasmine seperti berusaha membuka sekat-sekat atau pembatas ruang pada karya itu. Sementara Diah begitu performatif yang kentara cita rasa koreografinya.

Performance art memang terbuka bagi publik untuk dekat dengan sang objek. Demikain halnya yang terjadi pada penampilan Jasmine dan Diah. Seorang anak kecil bisa sangat leluasa melihat Jasmine dengan sangat dekat. Fotografer dan kameramen juga dapat dengan bebas membidik Jasmine dan Diah. Namun intensitas kedua seniman ini mampu menghalau 'noise' para fotografer dan publik yang agak menganggu. Sebuah konsekuensi performance art yang lazim digelar di ruang publik terbuka.

Bagi Jasmine hal itu bukan persoalan tentunya. Yang jadi persoalan baginya adalah bagaimana batas-batas ruang pada karya seni instalasi itu bisa dibuka dan dimaknai oleh tubuh mereka.

Jasmine mengatakan kepada saya, usai melakukan performance art, bahwa ruang baginya adalah entitas yang seharusnya tidak ada batas. Itu pula yang coba dilakukannya pada karya seni instalsi Suklu.

Tidak hanya itu. Jasmine dan Diah melakukan performance art lagi di pantai Lepang untuk merespon karya seni instalasi “Menunggu Angin” yang disajikan Nyoman Sudjana Kenyem pada hari Rabu (30/12/09).

Karya seni instalasi Kenyem dibangun secara konstruktif di atas pasir pantai secara terpisah. Sungai kecil yang langsung bertemu air laut memisahkan karya seni instalasi Kenyem. Diah dan Jasmine mengitari salah satu konstruksi seni instalasi yang terbuat dari bambu-bambu kecil yang dianyam dengan ikatan kawat.

Sebuah jembatan dari bambu yang menghubungkan dua karya seni instalasi Kenyem tak lupt dari 'sentuhan' tubuh Jasmine dan Diah yang secara artistik mengenakan pakaian hitam melekat di badan serta kain warna krem sebagai elemen estetis kostumnya. Jasmine dan Diah menyeberangi sungai pada konstruksi jembatan bambu yang tersusun seperti hujaman bambu yang menancap pada pasir pantai yang dilalui air sungai dan ombak di pantai Lepang.

Mereka, pada satu kesempatan harus menembus aurs ombak yang masuk ke sungai kecil itu dengan susah payah dalam kesadaran bahawa mereka sedang melakukan performance art. Tiba di sisi lainnya, Jasmine dan Diah menyerahkan obor kepada Kenyem untuk memulai prosesi pembakaran salah satu karya di bibir pantai Lepang.

Berbagai adegan menarik cukup menyita perhatian publik yang menyaksikan prosesi itu sebelum akhirnya api membesar sampai meninggalkan abu. Pada aksi berikutnya Kenyem membagi abu karya seninya ke dalam 3 bejana.

Masing-masing bejana dilarung ke laut, ada yang dibawa ke studio Kenyem di Ubud. Satu bejana lagi diserahkan kepada Suklu mewakili Djagad Art House sebagai artefak art festival “Apa Ini Apa Itu” yang akan dipamerkan dalam pameran post-event di Bali pada pertengahan tahun 2010.

Tubuh Jasmine dan Diah pada performance art-nya menjadi teks yang dapat dibaca sebagai simbol-simbol visual di mana suatu peristiwa ritual dilakukan manusia untuk tujuan spiritual. Tema inilah yang kemudian mengerucut pada konsep "Apa Ini Apa Itu", dimana kendaraan teks - apapun bentuk visaulanya - bergerak menuju jalan kosmologi kesenian saat ini dengan rujukan budaya asal.

Karya seni instalasi Suklu dan Kenyem serta performance art Jasmine dan Diah dapat dipahami sebagai salah satu metoda pembacaan kosmologi alam dengan bahasa artistik. Tanpa pretensi yang bernilai profan, karya mereka menjadi ritual kesenian itu sendiri.

Lalu, dimana tubuh itu setelah habis menjadi ruang pemaknaan para seniman dalam menyampaikan pesan? Tubuh itu saya kira tetap milik Jasmine dan Diah dengan segala konsep yang dirancang dalam perhelatan "Apa Ini Apa Itu" di Klungkung, Bali, sebagai ritual kesenian penutup tahun 2009. MERDEKA

Diah dan Jasmine pertama kali merespon karya instalasi Wayan Sujana Suklu di Kubu, Banjar Lepang - salah satu situs perhelatan "Apa Ini Apa Itu" pada hari Selasa (29-12-2009). Seni instalasi bertajuk 'Merasakan ruang, Merasakan Angin' oleh Jasmine dan Diah 'dirasuki' permainan gesture tubuh kedua gadis tersebut. Pose-pose bak foto model kerap kali dipertontonkan kepada publik yang rata-rata masyarakat sekitar Lepang.

Hampir semua ruang pada karya seni instalasi Suklu dari bambu itu 'disentuh' dengan lembut oleh Diah Jasmine hingga pada ruang terdalam pada karya tersebut. Jasmine seperti berusaha membuka sekat-sekat atau pembatas ruang pada karya itu. Sementara Diah begitu performatif yang kentara cita rasa koreografinya.

Performance art memang terbuka bagi publik untuk dekat dengan sang objek. Demikain halnya yang terjadi pada penampilan Jasmine dan Diah. Seorang anak kecil bisa sangat leluasa melihat Jasmine dengan sangat dekat. Fotografer dan kameramen juga dapat dengan bebas membidik Jasmine dan Diah. Namun intensitas kedua seniman ini mampu menghalau 'noise' para fotografer dan publik yang agak menganggu. Sebuah konsekuensi performance art yang lazim digelar di ruang publik terbuka.

Bagi Jasmine hal itu bukan persoalan tentunya. Yang jadi persoalan baginya adalah bagaimana batas-batas ruang pada karya seni instalasi itu bisa dibuka dan dimaknai oleh tubuh mereka.

Jasmine mengatakan kepada saya, usai melakukan performance art, bahwa ruang baginya adalah entitas yang seharusnya tidak ada batas. Itu pula yang coba dilakukannya pada karya seni instalsi Suklu.

Tidak hanya itu. Jasmine dan Diah melakukan performance art lagi di pantai Lepang untuk merespon karya seni instalasi “Menunggu Angin” yang disajikan Nyoman Sudjana Kenyem pada hari Rabu (30/12/09).

Karya seni instalasi Kenyem dibangun secara konstruktif di atas pasir pantai secara terpisah. Sungai kecil yang langsung bertemu air laut memisahkan karya seni instalasi Kenyem. Diah dan Jasmine mengitari salah satu konstruksi seni instalasi yang terbuat dari bambu-bambu kecil yang dianyam dengan ikatan kawat.

Sebuah jembatan dari bambu yang menghubungkan dua karya seni instalasi Kenyem tak lupt dari 'sentuhan' tubuh Jasmine dan Diah yang secara artistik mengenakan pakaian hitam melekat di badan serta kain warna krem sebagai elemen estetis kostumnya. Jasmine dan Diah menyeberangi sungai pada konstruksi jembatan bambu yang tersusun seperti hujaman bambu yang menancap pada pasir pantai yang dilalui air sungai dan ombak di pantai Lepang.

Mereka, pada satu kesempatan harus menembus aurs ombak yang masuk ke sungai kecil itu dengan susah payah dalam kesadaran bahawa mereka sedang melakukan performance art. Tiba di sisi lainnya, Jasmine dan Diah menyerahkan obor kepada Kenyem untuk memulai prosesi pembakaran salah satu karya di bibir pantai Lepang.

Berbagai adegan menarik cukup menyita perhatian publik yang menyaksikan prosesi itu sebelum akhirnya api membesar sampai meninggalkan abu. Pada aksi berikutnya Kenyem membagi abu karya seninya ke dalam 3 bejana.

Masing-masing bejana dilarung ke laut, ada yang dibawa ke studio Kenyem di Ubud. Satu bejana lagi diserahkan kepada Suklu mewakili Djagad Art House sebagai artefak art festival “Apa Ini Apa Itu” yang akan dipamerkan dalam pameran post-event di Bali pada pertengahan tahun 2010.

Tubuh Jasmine dan Diah pada performance art-nya menjadi teks yang dapat dibaca sebagai simbol-simbol visual di mana suatu peristiwa ritual dilakukan manusia untuk tujuan spiritual. Tema inilah yang kemudian mengerucut pada konsep "Apa Ini Apa Itu", dimana kendaraan teks - apapun bentuk visaulanya - bergerak menuju jalan kosmologi kesenian saat ini dengan rujukan budaya asal.

Karya seni instalasi Suklu dan Kenyem serta performance art Jasmine dan Diah dapat dipahami sebagai salah satu metoda pembacaan kosmologi alam dengan bahasa artistik. Tanpa pretensi yang bernilai profan, karya mereka menjadi ritual kesenian itu sendiri.

Lalu, dimana tubuh itu setelah habis menjadi ruang pemaknaan para seniman dalam menyampaikan pesan? Tubuh itu saya kira tetap milik Jasmine dan Diah dengan segala konsep yang dirancang dalam perhelatan "Apa Ini Apa Itu" di Klungkung, Bali, sebagai ritual kesenian penutup tahun 2009. MERDEKA


——» Komentar «——

[Kirim Komentar]