Berita
SEDIKIT CATATAN DARI BANTEN SELATAN
Oleh : Zulkifli Songyanan
Sebermula dari penjelajahan di dunia maya, seorang kawan berhasil menemukan sebuah destinasi menarik di selatan Banten sana. Desa Sawarna. Itulah nama desa wisata potensial yang sempat kami (sejumlah mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata MPP Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) datangi pada 12-14 Februari 2010.
Terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan, Desa Sawarna memiliki garis pantai yang eksotik. Hamparan sawah hijau dan barisan pohon kelapa seolah menyatu dengan gugusan batu karang yang bertumpuk di sebuah teluk. Inilah perpaduan yang jarang ditemukan di pesisir Pantai Selatan lainnya, di mana sawah dan laut bertemu untuk kemudian menciptakan keindahan alam yang otentik.
Dengan suasana pedesaan yang kental, ditambah aroma ikan serta angin laut yang berdesir di antara daun padi dan lenguh kerbau, Desa Sawarna seolah menawarkan “surga yang lain” kepada wisatawan. Dan, jika wisatawan merasa belum puas oleh suasana yang demikian, mereka akan dimanjakan oleh Pantai Ciantir yang masih perawan. Di Pantai Ciantir, selain bisa berenang dan bersenang-senang, wisatawan bisa juga melakukan surfing. Khusus untuk surfing, rupanya kegiatan ini telah menjadi daya tarik tersendiri yang menyebabkan turis-turis asing berdatangan ke pantai ini. Tak jauh dari Pantai Ciantir, terdapat Pantai Tanjung Layar. Konon, Pantai Tanjung Layar adalah pantai kebanggaan masyarakat Desa Sawarna. Hal ini sangat wajar mengingat keindahan Pantai Tanjung Layar dengan dua buah batu karang raksasanya seakan-akan menjadi penghibur sekaligus pelindung desa dari ancaman gelombang besar. Bagi wisatawan yang memiliki minat lebih di bidang photografi, mengunjungi Pantai Tanjung Layar tampaknya menjadi semacam keharusan.
Bicara Desa Sawarna, sebetulnya wisatawan berhadapan dengan beberapa daya tarik pilihan. Sebab, selain memiliki sejumlah pantai eksotik dan area pesawahan, Desa Sawarna ternyata memiliki gua alam yang tak kalah menarik dengan gua alam lain di daerah tujuan wisata lainnya. Di Desa Sawarna ada empat gua yang sangat berpotensi menjadi objek daya tarik wisata unggulan. Namun dari keempat gua tersebut, yang sampai saat ini sering dikunjungi wisatawan hanya satu gua saja, yakni Gua Lalay. Gua sepanjang ± 700m ini dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat banyak kelelawar (lalay, Bahasa Sunda). Kondisi Gua Lalay sedikit-banyak mirip dengan beberapa gua di kawasan Cagar Alam Pangandaran yang dipenuhi oleh lekukan batu-batu stalaktit.
***
Kami memulai perjalanan dari Bandung menuju Pelabuhan Ratu. Setibanya di sana, kami berjalan terus ke barat, menyusuri Pantai Selatan, menuju Kecamatan Bayah. Perjalanan panjang ini (ditempuh dengan kendaraan roda dua sekitar 6-7 jam) tentu saja membosankan. Namun karena disuguhi pemandangan yang menakjubkan, ditambah kondisi jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun, perjalanan kami akhirnya terasa sangat menyenangkan (pun pada beberapa titik perjalanan terasa menegangkan).
Senja hampir selesai ketika kami sampai di Kawasan Desa Wisata Sawarna. Jalanan licin sehabis disiram hujan seharian, cuaca mendung, beberapa warga desa memandangi kami dengan mata yang ramah. Sebelumnya, tak ada petunjuk yang menandakan kami telah tiba di Desa Sawarna. Keadaan desa ini pun sebetulnya tak jauh berbeda dengan keadaan desa lain yang kami dapati sepanjang perjalanan. Memang tak ada hal yang terasa berbeda. Namun setelah berjalan terus ke barat, melewati kawasan hutan yang gelap dan rimbun, kami berdecak kagum menikmati Pantai Pulo Manuk yang anggun. Pantai ini adalah satu dari sekian banyak pantai indah yang tersebar di Kecamatan Bayah. Pantai dengan pasir putih yang menggoda, di belakangnya para nelayan tengah menambatkan perahu ke muara. Kami, yang saat itu melintas di atas sebuah jembatan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Sementara langit menyisakan cahaya yang kian jingga, kami merasa telah sampai di Desa Sawarna.
Kami memang merasa telah sampai, namun masih dibingungkan oleh penginapan yang tampaknya tak ada. Baru setelah bertanya kepada beberapa warga, akhirnya kami tahu bahwa Desa Sawarna telah kami lalui. Kami pun berjalan kembali melewati kawasan hutan yang gelap. Tiba di sebuah perkampungan, sejumlah warga desa mendekati kami dan mengatakan bahwa Desa Sawarna terletak di sebrang sungai yang ada di depan kami. Benar-benar kawasan wisata yang menarik, untuk mendatanginya saja kami harus berjalan di atas jembatan kayu. Di atas sungai besar yang airnya kecoklatan.
Disambut hamparan sawah hijau dan angin laut yang khas, kami pun sampai di Penginapan Niken. Pemilik penginapan ini menawarkan harga Rp. 85.000/orang untuk satu hari satu malam. Harga ini sudah termasuk makan tiga kali dengan lauk berupa ayam dan ikan laut, macam-macam panganan, kopi, teh, dan kelapa muda , serta semua fasilitas berupa tv, kulkas, tiga kamar tidur dan dua kamar mandi.
Waktu dua hari dua malam memang teramat singkat untuk menjelajahi seluruh daerah tujuan wisata di Desa Sawarna. Namun bukan berarti hal itu tidak meninggalkan kesan apapun. Penduduk yang ramah dengan kedamaian yang melumuri suasana pedesaan adalah segelintir alasan yang membuat kami merasa mesti kembali ke tempat ini. Suatu saat nantii.
——» Komentar «——
[Kirim Komentar]