Penyair dan dramawan legendaris Inggris, William Shakespeare, pernah melontarkan sekelumit kalimat terkenal dalam naskah dramanya, Romeo and Juliet. Kalimat beraroma eksistensialis itu mengandung setengah pernyataan, setengah pertanyaan: “Apalah artinya sebuah nama?”
Namun, bagi I Made “Romi” Sukadana, pelukis kelahiran Denpasar, 22 Januari 1973, sebuah nama sangatlah berarti. Hakikat nama mengandung pencarian jati diri, perjuangan, pertahanan, reputasi, doa, harapan dan kebanggaan. Dalam pengertian luas, nama seringkali berkaitan dengan identitas dan eksistensi diri. Ada pertarungan dan pertaruhan di sana. Tentu saja sebagai pelukis, selain nama, yang diadu dan dipertaruhkan adalah kepiawaian menciptakan karya-karya bernas, yang dikenang sepanjang masa.
Berdasarkan perenungan akan hakikat nama itulah pameran ini diberi tajuk “Sebuah Nama”. Pameran digelar di Ten Art Gallery, Sanur, dari tanggal 27 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. Petarung (petinju, pegulat) dipilih sebagai subjek matter dan figur yang secara simbolis mewakili semangat memperjuangkan sebuah nama dan gelar, demi pengakuan dan eksistensi diri. Tentu saja juga demi kejayaan, ketenaran dan kemakmuran.
Pameran ini menampilkan sejumlah lukisan terbaru Romi, yang diciptakan dengan memadukan cat akrilik, cat minyak dan pastel. Tentu saja karakteristik semua bahan itu berbeda. Romi ingin menampilkan ketegasan akrilik, kelenturan cat minyak dan kelembutan pastel. Teknik yang dipakainya pun sedikit berbeda. Figur-figur petarung dilukisnya secara realis pada hamparan kanvasnya. Kemudian, dia mempermak, mendistorsi, dan memberikan aksentuasi tertentu pada setiap lukisannya, seperti coretan dan arsiran pastel, lelehan cat, dan sebagainya. Semua itu demi kebebasan ekspresi dan untuk memunculkan efek-efek tertentu.
Karya-karya pelukis lulusan ISI Denpasar ini, berkisah tentang petarung (petinju, pegulat) dalam arti sesungguhnya. Namun, di balik itu dapat ditangkap makna simbolis yang ingin disampaikannya. Petarung menjadi metafora atau kiasan untuk mengungkapkan suatu situasi dan kondisi yang berkaitan dengan dunia kesenian, khususnya seni rupa. Bagi Romi, dunia seni rupa tidak jauh beda dengan arena pertarungan dimana setiap pelukis/perupa mempertaruhkan dan mempertahankan karya serta nama baiknya demi sebuah gelar, kebanggaan, kejayaan, ketenaran, kehormatan, dan kemakmuran.
Secara tidak langsung, melalui lukisan-lukisannya, Romi sebenarnya ingin menyindir kondisi seni rupa mutakhir kita. Misalnya, pada karya “Demi Sebuah Nama”, mengisahkan balada seorang petarung yang demi mempertahankan nama dan ego, rela mempertaruhkan apa saja, meski babak belur, terjatuh, dan berdarah-darah. Namun, di sisi lain, bagi penonton yang haus hiburan, si petarung hanya pecundang. Bahkan, si petarung menjadi objek taruhan/judi yang dirayakan penonton dengan gegap gempita. Tidak jauh beda dengan sabungan ayam (tajen). Kalau dikaitkan dengan arena seni rupa, tentu saja si petarung adalah simbolisasi dari pelukis yang tidak sadar telah menjadi pecundang balai lelang dan pasar seni rupa.
Lukisan berjudul “Ambisi” mengisahkan seorang petarung (petinju) yang tekun berlatih memukul samsak, bahkan tidak mengenal waktu, berlatih siang-malam. Petarung ini sangat berambisi menjadi pemenang yang “the best of the best.” Meski berlatih sangat keras, petarung lupa kalau di atas langit masih ada langit. Ambisi telah membutakan kesadarannya. Ambisi tanpa kontrol membuat petarung menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Misalnya, sudah jadi rahasia umum kalau sejumlah pelukis memakai tukang gambar untuk mewujudkan ide-idenya di atas kanvas. Mereka tidak perlu bersusah payah berlumuran cat. Cukup memberi sentuhan akhir yang ringan saja, yakni tanda tangannya. Dan, bim salam bim, lukisan si tukang gambar diakui sebagai ciptaannya sendiri.
Dengan kekuatan fisik prima dan strategi jitu, seorang petarung harus siap menghadapi segala resiko dari pilihannya, kapan pun dan di mana pun. Sama halnya dengan memperjuangkan suatu keyakinan dalam berkesenian, merupakan sebuah pilihan sadar dengan segala resikonya. Misalnya, kalau lukisan tidak laku, ya harus bersiap mengutang kiri-kanan demi mempertahankan hidup. Hal itulah yang ingin dikisahkan dalam lukisan berjudul “Petarung” ini. Sementara itu, lukisan “Penantang” mengisahkan munculnya penantang-penantang baru yang siap bertarung. Tentu saja mereka telah membekali diri dengan berbagai teknik dan strategi mumpuni. Para penantang ini bisa dimaknai sebagai perupa muda yang banyak bermunculan di arena pertarungan seni rupa, berlomba meraih nama, ketenaran dan kesuksesan.
Dan, apa pun resiko dari sebuah pilihan, maka harus terus bertahan sambil memperhitungkan segala sesuatunya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Begitu kira-kira maksud dari lukisan “Masih Tetap Bertahan”. Seperti terlihat dalam lukisan “Kehormatan”, cita-cita tertinggi petarung sejati adalah meraih kehormatan, pengakuan, dan eksistensi diri. Sama halnya dengan pertarungan sumo, petarung berupaya meraih yokozuna tertinggi, juara dari juara. Dalam seni rupa, kehormatan adalah pujian dan penghargaan masyarakat atas karya-karya bernas yang diciptakan perupa.
Setiap pertarungan selalu memunculkan pemenang dan pecundang. Bahkan petarung legendaris seperti Musashi pun, terus menerus mengasah ilmu pedangnya agar mampu mengalahkan musuh-musuhnya, meraih kehormatan dan mempertahankan eksistensi dirinya. Meskipun pada akhirnya Musashi sadar, semua pertarungan itu tidak lagi berguna ketika ada jalan lain yang lebih menggodanya: Nirwana. Tentu saja, tantangan terbesar untuk mencapai itu adalah mengalahkan musuh-musuh di dalam diri. Dan, apalah artinya sebuah nama ketika kesejatian diri tidak lagi terikat dengan berbagai macam sebutan.
Namun, menurut Romi, setiap petarung sejati tetap berupaya mempertahankan sebuah nama. Begitu juga seniman, berkarya demi untuk karya itu sendiri, dan tentu saja demi nama.***
[laporan Wayan Sunarta | Bali]