Catatan Harian
SURAT DARI SEBRANG DEMI MASA LALU
Oleh : ach.sulaiman (selendang)
Awal dari segalanya, maafkanlah segala salah dan dosa-dosa. Sebab tiada kata yang paling agung kecuali kata maaf yang ikhlas. Selajutnya, semoga tuhan selalu bersamamu, memberkahi jalan hidupmu, serta merestui keputusanmu memilih pergi dari hatiku.
Rentetan kata ini aku liris demi hati yang merana dan untukmu yang memendam kebohongan lantarani rasa yang mengganda di hatimu.
Aku masih ingat bagaimana matamu menatapku, sampai aku terlena dan jatuh hati padamu. Meski aku tak yakin rasa itu tulus padamu atau sekedar rasa kagum akan kecantikanmu. Benar, aku mencintaimu karena terpaksa, lantaran paras ayumu. bukan,! aku hanya kagum. Sebab aku masih punyak rasa pada perempuan lain yang lebih dulu menggugah hatiku, She, namanya.
Berawal dari cintaku padanya, yang bertepuk nsebelah tangan. aku tertarik padamu, kaupun begitu, kata temanku jua temanmu. Aku mulai merayu, kau senang.. Akhirnya kita hubungan kita semakin dekat kendati statusnya tak jelas. Pastinya kau cemburu, bila aku dekat dengan perempuan lain, apalagi jika dengan She. Begitupun aku.
Tidak lama, kitapun putus komonikasi. lantaran selalu salah paham. Meski hanya lewat tulisan di atas kertas putih. Maklum, waktu itu aku masih terlalu dini untuk mengenal ”perasaan” Mungkin kau juga seperti yang aku rasa.
Sejak saat itu, hati dan Pikiranku tak tentu arah. Yang ada hanya perempuan dan permpuan. Rasapun lebur, hancur. Hasrat untuk memiliki memuncak. Sampai aku berani menulis sepucuk surat lagi, untuk memikat hati yang lain. Tentunya kau dapat mengira untuk siapa surat itu, ya, untuk She. Lagi-lagi aku ditolak. Aku kecewa lagi. Yang kemudian aku lampiaskan padamu.
Aku merayumu untuk yang kedua kalinya. Masih seperti kemarin, kau senang, meski kau anggap gombal. Tapi apadalah dayamu bila kau masih menaruh hati padaku. Lagi-lagi kisah yang lalu berulang kembali, hubungan yang tak jelas itu.
Tiba-tiba, kau marah, entah sebab apa? yang jelas kau cemburu. Lantaran aku masih sering menjalin komunikasi dengan She. Aku mencoba menjelaskan, kau bilang, tak ada gunanya. Ya… apa boleh buat. Kau memang terlalu keras kepala. Akhirnya, kita putus untuk kedua kalinya. Tentunya kau akan kecewa dengan putusan itu atau bahkan sampai patah hati. Bagiku, putusan itu bisa saja. Sebab kau hanya pelarian hasrat hatiku saja. ya, pelarian.
Tak cukup sampai di situ hasratku meronta dalam hati. Rasaku padanya kian memuncak. Keinginan untuk memiliki semakin kuat. Aku selalu mencari cara agar ia menerimaku. Suatu waktu, aku mendatanginya sekedar untuk bercakap-cakap, bersenda gurau, tertawa, bertukar senyum karena canggung dan kikkuk. Beberapa minngu kemudian. Dia mulai suka dengan sikapku, caraku bicara, dan rayuanku. Entah apa yang mengikat hatiku. Sampai nama “She” tak dapat aku hapus dari dinding hati. Apa karena diaseorang perempuan yang pertama kali menempati ruang kalbuku. Entajlah.
****
Pertemuan tanpa rencara. Kita bercanda, tertawa, seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita. sesekali kau tersenyum dan kau terdiam saat menatapku lekat-lekat, entah apa yang kau lihat dari wajahku. Aku hanya mengira, kau sedang masa lalu yang buram. Aku biarkan kau hanyut dalam kenangan.
Dan, tanpa terasa kita telah asyik dalam percakapan yang entah sedang membicarakan apa. Alurnya tidak tetu arah. Munkin kita sedang mencoba menyembunyikan kekurangan dan kesalahan masing-masing. Suasana akrab yang tak pernah kualami selama hidupku. Kita begitu menikmati pertemuan itu. Hatiku damai dan hidup terasa lebih berarti. Akhirnya, terjadilah sesuatu yang tak pernah kita inginkan. Perbuatan yang munkin bisa menjadikanmu membenciku. Dibalik lemari di hadapan cermin aku melihat bayangan kita sedang berciuman.
Ah, terlalu hinanya diriku yang telah mengotori bibir dan pipimu yang ranum itu. Aku menyesal. Tubuhku lemah tak berdaya, terlentang diatas ranjang. Padahal aku pernah bilang, setiap perempuan yang aku sayangi, tidak akan pernah kusakiti. Tapi, kenapa aku lakukan perbuatan itu. Yang lebih aku sesali, kau bilang itu hal yang biasa terjadi. Entah apa maksudmu bilang seperti itu. Aku hanya tak mau buruk sangka terhadapmu.
Hati ini berubah haluan. Aku benar-benar jatuh hati padamu. Aku merasakan sesuatu yang hilang dari ragaku. Bila tak ada kau di dekatku. Entah kenapa. Atas nama perasaan yang ikhlas dan tulus. Kitapun menjalaninya tanpa ada rasa dendam, kendati kau sering memojokkanku dengan mengumbar masa laluku yang buram. Tapi hal itu kau masih bisa memakluminya. Selayak tak pernah ada apa-apa antara kau denganku, sebelumnya.
Aku bahagia, ya, bahagia. Aku merasa nyaman ketika ada disampingmu. Bila aku ingat masa itu, aku jadi ingin selalu bersamamu. Namun aku sadar, bahwa hubungan atau jalinan cinta, tidak selamanya harus bersama. Adakalanya kita harus berpisah untuk sementara waktu. Sekedar menguji masing-masing.
Benar, kitapun harus berpisah. Berpisah untuk bersama lagi. Sebab perpisahan adalah langkah awal keabadian hubungan. Memang, tiada yang lebih meresahkan dan menegangkan dibanding dengan perpisahan. Tentu kau masih ingat, saat menjelang perpisahan kita. Kau menangis sejadi-jadinya, air matamu meleleh membanjiri wajahmu yang ayu. Kau memelukku dengan erat, erat sekali. Seolah kau tak mau berpisah denganku. Tiba-tiba mata air di mataku jua tumpah.
Hatiku lepas, terbang bersama riak tangismu. Bibirku bergetar hampir tak mampu mengelurkan kata, kata yang bisa membuatmu tenang saat menjelang perpisahan nanti. Dengan segala ramuan rayu-rayu kaupun berhenri menangis, meski raut wajahmu masih tampak keruh oleh ketidak ikhlasan melepas tanganku.
Terpaksa aku harus pergi meninggalkanmu, membawa kepingan jiwamu ke negeri rantau. Aku hanya berharap suata saat nanti kita dapat bertemu untuk bersama selamanya. jujur, aku juga berat melepasmu sendiri, disana, tapi apalah daya. Jika waktu yang paling berhak menentukan jalan hidup manusia. aku hanya pada takdir. Sebab aku pikir kaulah perempuan sempurna dengan hati yang tulus mencintaiku. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa kau akan lebih setia dan sabar menungguku.
Dengan itu, aku berjanji, memuntahkan sumpah serapah untuk selalu setia kepadamu dan tidak akan membagi hati kepada siapapun. Aku, mampu untuk itu, lantaran hanya kau yang ada di hati. Ketahuilah tak ada tempat di relung sukmaku yang mampu menggerakkan jiwa dan raga kecuali kau, kekasihku.
“Selamat tinggal” Berat aku ungkap kaupun berat untuk menerimanya. Aku telah benar-benar pergi dari dekatmu, namun tidak dari hati dan hidupmu. Aku membawa cinta dan setiamu. Aku percaya kamu. Oleh sebabnya aku memilih untuk selalu setia.
Beberapa minggu kita berada diantara. Hubungan komonikasi kita masih biasa-biasa saja selayak kita tidak sedang berpisah. Namun, beberapa minggu selanjutnya kita putus hubungan, lantaran aku dihadapkan dengan kesibukan sejak pertama aku masuk kuliah. Mulai dari “opak/ospek” sampai padatnya tugas-tugas makalah. Apalagi aku harus konsentrasi membaca dan menulis. Aku pikir kau paham setelah aku memberi penjelasan terhadapmu, suatu waktu.
Singkat saja, aku dan kau telah bertemu kembali. Pertemuan yang diawali dengan kesalah pahaman atas keegoisan masing-masing. Kau selalu menyalahkanku lantaran aku yang jarang menghubungimu lewat sms ataupun calling.
Percakapan berlalu dengan redamnya prasangka-prasangka buruk. Aku mulai mengumbar kata cumbu rayu, biar kau semakin yakin bahwa aku tetap setia padamu dan tak pernah menginkari janji-janji yang pernah aku siratkan kepadamu, tempo dulu sebelum kita berpisah. Tapi, ternyata kau telah lebih pandai memutar balikkan kata-kata. Aku bisa maklum lantaran kau telah tumbuh dewasa sebagai perempuan cerdas.Kau tak mau kalah dengan cumbu rayuku. Kau membalas semua kata-kataku. Kau meminta ku untuk menjawab satu pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab.
“ka’ selama ini kaka’ nganggap adik sebagai apa? Sahabatkah, kekasih yang tak jelas, atau hanya sebagai adik kakak saja?” tanyamu
“Kupikir aku tak perlu menjawabnya tentunya kau bisa paham sdengan segala kata dan sikap kakak selama ini. Cukuplah tuhan saja yang tahu isi hati kakak” jawabku.
“Adek tidak mau becakap dengan tuhan.”
“Rasakan saja!”
“Perasaan kadang tidak jujur. Adek mau kakak yang ungkap langsung”
“Baiklah, dengan segenap hati dan perasaan. Kakak, sangat mencintaimu dan kakak telah sepenuhnya bisa melupakan She”
“Cukupkah, dengan kata itu penjelasan kakak. Selanjutnya?”
“Kakak ingin kita bahagia untuk selamanya.” Begitulah janjiku padamu, tentu kau masih mengingatnya. Pertemuan dirumahmu itu berakhir tenang. Dan kita tak bisa bersua kembali, sampai aku harus kebali pulang ke negeri rantau.
22 Desember 2008
INTUISI RINDU BERUJUNG PILU
Sebuah catatan harian tanpa alur
Tentang kerinduan di pulau sebarang
Tentang kekasih yang rapuh hatinya
;06 desember 2008
Tiba-tiba, kau menelfonku. Dengan alasan sekedar ingin mengucapkan selamat hari raya idul adha. Suaramu serak. Aku tanya kabar. Biasa saja, jawabmu. Padahal kangker payudaramu. tumbuh lagi.
“Tumben kau menghubungiku, bersamaan dengan keresahaan hati, merindukanmu. Tadi malam kau hadir dalam mimpiku dengan cahaya. Kau tersenyum, seperti tanpa beban.”
Betapa senang melihatnya. Namun lekas aku terbangun, aura wajahmu lenyap saat aku terjaga. Sontak aku beranjak dari ranjang. keluar kamar. Disana, aku menemukan serangkaian gemintang bertuliskan huruf-huruf, itu namamu, ajaib. Dan rembulan hampir jatuh dibawah cakrawala. Sengaja aku tidak menggapainya. Sebab aku tahu hanya sinar di matamu yang paling cahaya, menderang.
Ketahuilah, tadi malam aku menangis, ingat dirimu. Aku rindu adamu, tidak hanya denting atau parau suaramu dari sebrang. Aku ingin bersua denganmu. Sempat aku berpikir untuk pulang kampung, menemuimu. Tapi itu tidak mungkin sebab saat ini aku masih punyak tanggung jawab terhadap semua orang yang mempercayaiku dalam rantau ini, termasuk kau. Yang aku rindukan setengah mati.
Aku hanya minta satu hal, pahamilah keadaanku. Aku selalu memikirkanmu. Jangan kira aku masih seperti yang dulu. Aku adalah kekasihmu yang sekarang, kekasih dengan hati tulus ikhlas penuh kesetiaan. Aku telah mati dari masa lalu. Aku lahir dengan lumuran cinta suci, untukmu.
;10 desember 2008
Sejak malam ini aku butuh kejujuran hatimu, aku tidak akan lagi menuntutmu, untuk selalu ikut apa kata kataku. untuk merubah sikapmu yang sedikit tidak aku sukai, hanya saja kubutuh satu jawaban murni atas hatimu demi rasa yang merindu. Sejujurnya ada banyak hal yang mesti kau ketahui tentangku. Namun, entahlah kau lebih memilih acuh tak acuh terhadap diriku. sejak kemarin kau aku tinggalkan. Itupun kau merestuinya, meski air mata yang harus mengantarku pergi.
Biarlah aku pergi dengan ketenangan tanpa sembab bola matamu dan merah mancung hidungmu. Biarkanlah aku pergi bersama hati dan rasamu. Membawa setumpuk impian yang aku-kau selalu memimpikannya.
Terpaksa aku harus pergi, meninggalkan hati yang membara dan asmarandana yang sedang bersemi dilubuk hati kita masing-masing.
Takdir memang terlalu dini memisahkan kita mengarungi luasnya kerinduan dan godaan-godaan yang datang menyergap menikamku. Sampai darah tumpah dalam mimpi-mimpi, melantunkan syair kelukaan yang menggores wajah ayumu, apa itu benar wajahmu, kekasih?.
;11 desember 2008
Senja yang merah saga masih setia melukis hamparan langit di ufuk barat. Seperti yang pernah aku nikmati bersamamu, kemarin di dekat jendela rumahmu. kala itu kau untai segala hasratmu. Segala pertanyaan kau tumpahkan padaku.
Sambil melepas rasa ke jantung senja. Aku berkata tanpa kata-kata yang tak mudah aku siratkan sebelumnya, sebab aku tidak ingin mengingkari. Aku mengumbar banyak impiam dan janji denganmu, begitupun dengan dirimu. Tiada sekedar itu, kita sempat bermesra ria saling menukar isi hati yang mengalir lewat hilir muara mata kita.
Kau begitu manis pada persuaan itu. Aku tak dapat membayangkannya saat ini, setelah pertemuan itu harus menjadi akhir kebersamaan kita. Sebab aku harus pergi.
Masih ingatkah dikau kekasih, pemikat hati, belahan jiwa, nyawa hidupku. sewaktu kita masih bersama, saling bertukar senyum bahkan tertawa tanpa rasa bersalah apapun. Sampai akhirnya kita harus sama-sama menikmati kesunyian yang menian, seperti kali ini. sampai kapan kerinduan yang menikmati tubuh kita akan menyerap sel-sel darah kita. Tulang belulangku telah tampak memutih merapuh oleh waktu yang semakin tega menyergapku keruang hampa yang mengerikan
;12 desember 2008
Hari ini hati dan perasaanku telah lebur dengan prasangka-prasangka yang tak aku mengerti. Segala tudingan yang terjuris kepadaku jadikan keresahan tak tertambatkan. Aku menjadi manusia yang serba salah di hadapan seorang kekasih yang selama ini aku rindukan. Ya, aku merindukannya.
Sejak aku berpisah denganmu diakhir juli 2008 yang lalu. Entah kenapa setiaku padamu selayak menjaga hati dan hidup sendiri. Betapa berartinya dirimu dalam hidupku. Sehingga aku tidak bisa untuk tidak berkata aku selalu sayang setia padamu. Namun, ada yang mengganjal dihati saat ini. kau selayak tak punyak rasa lagi. Atau hal itu hany perasaan prasangka buruk saja. Karena aku terlalu mencintaimu.
Awalnya hubunganku denganmu baik-baik saja seperti dua sejoli yang akan selamanya abadi dan tak akan pernah rapuh oleh perubahan waktu. Cinta, cintalah yang yang mendalangi diantara kita. Sehingga kerinduan tercipta dan menjalar keseluruh tubuhku. Aku merengek dalam kegelisahan bilamana aku tak dapat kabar tetang dirimu.
Meski aku mencoba untuk melupakan sekedar menenangkan pikiran, itu tiada artinya. Malah keresahan kian memuncak seolah aku ta bisa hidup tanpamu. Namun semua tidak seperti yang aku harapkan. Kau telah berubah. Kau mulai tidak percaya lagi dengan diriku. Entah apa sebabnya. Apa lantaran kau dan aku berada di pulau yang berbeda. Pulau yang dibatasi oleh selat. Aku rasa, tidak. Sebab jarak tidak menentukan utuhnya tali kasih sayang.
Memang, jarak akan selalu menjadi rintang dalam sebuah hubungan. Tapi itu bukan alasan mengapa kau meragukan setiaanku. Tentu ada hal lain yang sengaja kau sembunyikan dariku. Jika tidak sedemikian, lantas kenapa kau merubah?.
Hanya tanya dan tanya yang bisa kubahasakan, setiap nadi ini berdetak menjadi nafas di rongga dadaku. Kenapa sayang? Kenapa?. Apa ada yang salah dariku. Munkinkah aku telah melakukan kesalahan besar yang selama ini tiada pernah aku sadari. Setidaknya kau bisa jelaskan padaku. Biar aku tidak sangsi menilaimu.
;19 desember 2008
Percakapan tanpa rencana antara aku dan teman kosku, sahabat dekat mantan kekasihku. Awalnya, aku dengannya hanya bincang-bincang tanpa tema. Sambil mendengarkan lagu-lagu rindu melankolis. Dan entah bermula dari mana, percakapan menjadi serius tentang kisah luka yang mendera hidupku.
Yang aku ingat pada awal percakapan tentang hal ini, aku tanpa sengaja mengucapkan satu kata, sebuah nama mantan kekasihku. Lantas dia bertanya, apa masalahnya kok bisa-bisanya kekasihku memutuskan tali kasih denganku. Ya, terpaksa aku jawab dengan apa yang aku ingat tentang kejadian percakapan lewat handphone beberapa hari yang lalu.
Ceritanya singkatnya bigini, pada suatu siang sepulang kuliah aku nelphon kekasihku. Aku tanya kabar tentangnya. Kemudian tanpa banyak basa basi aku langsung membahas tentang perasaannya akhir-akhir ini. sebab, aku merasa ada yang lain dari sikap dan cara ia berbicara denganku dalam handphone beberapa yang lalu. Intinya dia mulai meragukan kesetiaanku.
Waktu itu aku terbawa emosi. Saat aku tanya apa maunya, malah dia menjawab sudahlah tak ada yang perlu dibahas lagi. Aku terus mendesaknya agar dia menjawab pertanyaanku. Namun tetap saja dia tidak mau jujur. Akhirnya aku marah. Diapun juga ikutan marah. Lantas dia bilang, kita temenan saja. Maksudnya apa? Tanyaku. Ya… entahlah aku menjadi sulit untuk percaya lagi padamu, jawabnya ketus. Dan sambungan handphonpun terputus, setelah aku hubungi lagi malah dirijek.
Beberpa jam kemudian, dia kembali mau ngankat calling dariku. Percakapan berubah menjadi biasa-biasa saja. Aku tidak lagi bersikap emosi, kemarahanku diredam di lubuk hati yang terdalam. Namun tetap saja hasilnya menyakitkan. Dia benar-benar ingin putus dariku. Ya.. mau bagaimana lagi, terpaksa aku mengiyakan. Aku tidak bisa lagi untuk memaksanya menjadi kekasihku. Toh, dia pikir aku sudah dianggap pengecut olehnya, aku mengecewakanya, dia bilang seperti itu.
Tanpa terasa air mata tumpah membasahi pipi. Suaraku seketika berubah serak dan lirih. Tak usahlah menangis, jadi laki-laki jangan cengeng, katanya. Biarlah, aku tidak peduli dengan kelakianku yang kau anggap cengeng, yang jelas aku sangat berat hati dengan keputusanmu itu, ujarku dengan menahan rasa pedih di hati seraya menyeka air mata. Diapun menangis, tanpak dari suaranya yang putus-putus. Aku tidak menanyainya kenapa bisa menangis. Aku hany mampu berkata, mungkin sudah takdirnya. Ketika dia mengumpat kata maaf, jika dia telah melukai hati dan perasaanku.
Begitu selesai aku mengungkap cerita pada temanku yang juga sahabat mantan kekasihku. Dia bilang bahwa dia telah tahu semua yang terjadi padaku. Bahkan dia lebih tahu kenapa kekasihku memutuskanku.
Sebenarnya, selama ini aku diam ketika kau curhat, membangga-banggakan, kekasihmu. Bukannya aku tidak tahu apa-apa. Sebelumnya, kekasihmu itu sering sms-an denganku mengenai dirimu, Cuma aku merahasiakannya. Aku tidak mau mencampuri urusanmu, meski dia selalu memintaku untuk menyampaikannya padamu. Sebab aku pikir kau mampu menyelesaikan masalah ini. buktinya sekarang sudah tuntas kan?. Cakapnya.
Kau perlu tahu semua ini. dan aku tidak mau terus terbebani oleh kebohongan tentang dirinya. Selama ini, yang di pikirkan bukan hanya kamu seorang. Disana dia punyak simpanan. Sdari kemarin dia bingung mau pilih yang mana antara kamu dan simpanannya. Oleh sebab itulah dia memutuskanmu, sebab dia tidak ingin kau lebih sakit hati lagi jika kelak kau tahu semuanya. Bahkan tidak hanya satu, ada dua orang selain kamu yang ia garap. Jadi, kau hanya dijadikan simpanan saja selama. Munkin kau akan lebih sakit hati lagi dengan mendengar semua ini. namun, walaubagaimanapun kau harus tahu yang sebenarnya. Meski rasanya begitu sangat menyayat hati.
Sekarang terserah kamu. Mau menangis? Menangislah. Mau berteriak? Berteriaklah. Atau mau bermuram durja?. Semua itu hak kamu. Yang jelas, aku ceritakan hal inio padamu bukan untuk memanas-manas kamu. Memang sudah sepantasnya kau tahu semuanya. Dari kemarin katika kau bercerita dengan teman-temanmu tentang kekasihmu, aku hanya bisa tersenyum pilu di hati. Sebab apa yang kau banggakan tentangnya tiada artinya. Dia membahagiakanmu di atas kebohongan belaka. Jadi maafkanlah aku, jika turut melukai perasaanmu. Katanya panjang lebar. Aku hanya mengelus dada dan memalung rambutku.
Sementara, dalam hati, selayak ada yang mencincang, mencabik-cabik, merobek-robek, sakit sekali. Padahal kemarin ketika dia memutuskanku, perihnya tidak seberapa, sebab aku rasa, akulah yang bersalah, yang katanya aku telah tidak setia lagi, suka mainin perempuan, dan yang lebih penting, katanya sifatku masih belum bisa aku rubah. Sifat yang bagaimana yang ia maksud? Aku tak paham. Dan ternyata, dia ,memutuskanku bukan segalanya dari kekuranganku, melainkan lantaran dia punyak simpanan yang lebih baik dariku.
Ya… aku pikir memang lebih baik begitu. Mungkin yang terjadi padaku saat ini adalah karma bagiku. Setelah tiga kali aku pernah melukai hati dan perasaannya. Jadi pantas saja jika akan mencampakkan cinta dan kesetiaanku. Sebab dia punyak simpanan di belakangku.
Hatiku benar-benar hancur saat ini. hablur. Remuk. Dan entah, apa aku masih memendam rasa cinta atau dendam terhadapnya. Yamg pasti aku akan hidup bahagia bersama siapa saja yang akan membahagiakan diriku. Termasuk dirinyi. Suatu saat nanti jika tuhan berkehendak. * * *
Semoga segala yang aku tuliskan mampu membuka hatimu kembali. Meski sekarang setatusku denganmu hanya sebatas saudara layaknya kakak dan adik. aku sebagai kakakmu sengat berterima kasih dengan kau putuskanku sebagai kekasih. Lantaran selama ini, kau tidak hanya mencintai diriku.
Pertama, aku pernah berprasanka buruk dengan kehadiran Alif yang kau bilang itu ustdzmu. Tapi nyatanya kau menjalin hubungan dengannya dibelakangku. Betapa sakit dan hancurnya hatiku setelah mengetahuinya. Andai aku tahu sebelumnya tentu aku tidak akan melanjutkan hubungan itu. Meski dengan terpaksa dan berat hati. Kedua, kau diam-diam menjalin hubungan dengan Waedi yang sekarang kuliah di STAIN pamekasan. Sehingga aku baru paham dansadar kenapa kemarin kau pernah bilang bahwa kau setelah lulus nanti kau akan kuliah di pamekasan. Ternyata karena ada waedi. Yang terakhir, kau juga berhubungan gelap dengan Edi anak batang-batang.
Betapa kau telah pandai membagi hati dan perasaan demi kebahagiaanmu sendiri. Tanpa memperdulikan perasaanku yang selama kujaga hany untukmu. Tapi tak apalah itu semua hak kamu. Sekali lagi terima kasih. Keputusanmu adalah jalan terbaik yang harus kau pilih. Meski harus menggoreskan luka di hati orang yang telah lama dan lebih dulu mencintaimu. Sebut saja dia adalah aku.
Saat ini aku bukan kekasihmu, aku hanya kakak angkatmu. Kakak yang akan selalu menjagamu. Meski hatiku telah kau hancurkan, hingga aku putus asa dan takut untuk jatuh cinta lagi. Aku tidak akan pernah menaruh rasa dendam terhadapmu. Lantaran apa yang kau pilih adalh karma bagiku. Dan aku telah memaafkanmu walaupun sulit untuk aku lupakan.
Pesanku yang terakhir. Pesan dari seorang kakak terhadap adiknya:
“Jika dirimu tidak merubah sikapmu dan tetap menjalin hubungan gelap yang kau lakukan selama ini, jangan pernah kau berharap hidupmu akan bahagia. Sebab kebahagian didasari oleh kejujuran, keikhlasan, ketulusan dan kesetiaan. Oleh sebabnya aku setia dan tulus mencintaimu. Lantaran aku ingin hidup bahagia sebagaimana mestinya. Aku ingin berubah. Aku tidak mau hidupku terapung dilautan kegelisahan dan terlunta-lunta oleh ketidak jujuranku terhadap hatiku sendiri. Namun semua usahaku telah kau hancurkan. Padahal engkaulah perempuan yang mampu merubah segala sikapku dan kebiasaanku mempermainkan perasaan hati seorang perempuan.”
D’ pilihlah dintara mereka yang ada di hatimu, mana yang paling membuatmu senang dan bahagia. Jangan rakus memilih pasangan hidup. Biar kau tidak menyesal, bila suatu saat nanti apa yang menimpa kakakmu saat ini juga terjadi kepadamu. Kakak hanya tidak ingi kau sakit hati lagi. Cukuplah kakak saja yang merasakan betapa pedihnya ditinggalkan seorang kekahih yang sangat dicintai.
Berbahagialah bersama siapa saja. Jujurlah pada hatimu, setialah akan janji-janjimu dan berikanlah ketulusan kepada siappun yang kau cintai. Itu saja.
Sekali lagi terima kasih. Maafkanlah segala kesalahan. Dan maaf yang sebesar-besarnya, bukan maksud kakak mau menceramahimu atau mengguruimu. Sebab kau yang lebih paham semua ini.
Semoga tuhan selalu memberikan jalan terbaik padamu. Amiiiinnnn…..!
Kabar Dari Sebrang
Vei, apa kabar ?
Bagaimana kondisimu ?
Maaf, aku tak bisa datang untukmu
Pada malam atau siang itu
Bukan aku tidak ingin menjengukmu
Atau tak mau setia atau ingin berdusta
Akan janjiku sendiri
Aku tak berada di sampingmu
Demi hati yang ikhlas
Karena terpaksa
Mungkin kau akan kecewa
Atau bahkan marah sejadi-jadinya
Tapi tak apalah
Marahlah,
Puaskan amarah jiwamu
Biar kasihmu kian menggunung
2008
Mimpikan Dirimu
Aku terlalu mesra bermain duka
Bercanda rindu berbagi resah
Sementara kau yang di sebrang
Masih gamang memasrahiku
Aku acuh tak acuh, katamu
Kata siapa?
Itu hanya nafsu asmara
Geliat candu cemburu
Yang kian memburu
Aku bukan yang kau tahu
Aku bukan diriku yang dulu
Aku telah mati dari masa lalu
Aku telah lahir kembali
Untuk semua dan hati yang ihlas
Bagi yang istimewa
Adalah dirimu
2008
——» Komentar «——
[Kirim Komentar]