Telaah
Kaki Ine Dan Kesederhanaan (Ulasan Cerpen "Kaki Yang Terhormat" karya Gus tf Sakai)
Oleh : Agus Dwi Putra
"Bila ada peribahasa berkata pelihara lidah, berjalan pelihara kaki, maka Anda boleh yakin, hanya penggal terakhirlah yang penting bagi nenek saya," demikian ditulis oleh Gus tf Sakai dalam cerpen "Kaki Yang Terhormat”.
Nenek yang dikisahkan di sini sangat percaya bahwa kaki adalah penentu kehidupan dirinya, dan karenanya pula dipercayainya berlaku juga bagi setiap insan. Dikisahkan, nenek, yang biasa dipanggil dengan sapaan Ine oleh tokoh utama, sewaktu muda sering naik ke bukit. Tentu saja berjalan kaki menyusuri jalan mendaki dan berbatu. Atas motivasi apa Ine muda melakukan itu?
Kata Ine, "... karena di situlah peruntungan Ine."
Ine tidak melakukannya karena terpaksa, misalnya diperintahkan ikut mendaki untuk memotong ranting bersama saudara-saudaranya. Ine juga tidak mendaki bukit demi kesukaan belaka. Dalam kisah ini, boleh jadi Ine melakukannya untuk mengejar tujuan yang jelas: peruntungan. Bukan karena terpaksa, mengandung pengertian bahwa kegiatan itu dilakukannya dengan kehendak bebas. Bukan karena kesukaan, mengandung pengertian bahwa ia mengerti keuntungan yang akan ia peroleh dari rutinitas yang perlu dijalaninya itu.
Ini menarik untuk digali. Bukankah dalam kecenderungan itu tersirat gambaran kehendak bebas untuk mencapai tujuan? Gus tf Sakai menggunakan simbol kaki untuk merepresentasikan kuasa itu. Ine, dengan demikian, adalah sosok yang sangat percaya bahwa setiap insan memiliki kuasa membawa kehidupan masing-masing, entah ke puncak kebahagiaan atau ke dalam palung kesengsaraan. Boleh jadi pula, dengan dasar itu Ine dapat berkata, kaki adalah bagian tubuh yang paling penting. Ketika Ine "... mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah", saya membayangkannya sedang berusaha untuk semakin menyadari besarnya potensi kuasa itu.
* * *
"Kaki Yang Terhormat", demikian judul cerpen ini. Judul yang dibuat rinci (bukan "Kaki" saja") barangkali sengaja digunakan untuk mempertegas bahwa ada juga kaki yang tidak terhormat.
Ketika Mak Etek Harun pergi kuliah ke Jakarta, Ine berujar, ”Kakilah yang menentukan hidup seseorang akan seperti apa. Dan kaki itu kini telah membawa Mak Etek kalian ke Jakarta.” Pada titik ini kehendak Mak Etek untuk melanjutkan pendidikan di ibu kota adalah sesuatu yang terpuji: kakinya terhormat.
Sampai akhirnya terdengar kabar dari seseorang di kampung sebelah yang merantau ke Jakarta: di Jakarta, Mak Etek ke mana-mana naik helikopter! Dikisahkan bahwa orang-orang takjub bukan kepalang. Namun, saat semua orang di kampung menanti kepulangannya, yang kabarnya mau membangun pabrik semen di sana, beredarlah "berita besar (yang) menghantam bagai geledek: Harun terlibat kasus korupsi." Pada bagian ini Gus tf Sakai menuntaskan penggambaran atas sosok Ine beserta pendapatnya mengenai kaki. Ia menulis:
"Kau tahu apa sebenarnya yang membuat Mak Etekmu celaka?"
Saya menarik kepala. Memandang bibir krumput nenek lalu menggeleng.
”Karena ia tak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya dengan kendaraan, di atas helikopter itu saja.”
Ungkapan itu, ungkapan ”karena ia tak lagi menggunakan kakinya, ke mana-mana hanya dengan kendaraan” menjadi penggambaran utuh tentang gagasan Ine, khususnya tentang kaki atau kuasa. Ruang pemaknaannya sangat luas, tetapi ungkapan ini setidaknya dapat menyiratkan bahwa ketika insan tidak menggunakan kuasanya untuk membendung keinginan yang beraneka rupa, mereka akan terbawa di atas keinginan-keinganannya (yang disimbolkan dengan kendaraan). Mereka niscaya akan celaka.
Kita dapat mengira bahwa sosok Ine dalam cerpen ini adalah simbol kesederhanaan. Ia tampak sengaja digambarkan melalui karakter seorang nenek untuk mengingatkan:kita: yang sederhana itu sudah menjadi semakin tua dan rapuh di zaman modern ini[]
——» Komentar «——
Agus Dwi Putra2010-03-02 10:12:14"Terima kasih sudah memuat tulisan ini.
Salam,
Agus
" rinaldi timotius
2010-03-02 22:45:14
"jadi ingin membaca cerpennya, apakah di google bisa saya dapatkan. tulisan yang memancing."
Agus Dwi Putra
2010-03-03 14:22:39
"Cerpennya dapat dibaca online di http://cerpenkompas.wordpress.com/2009/12/20/kaki-yang-terhormat"
Moch Taufiqurrohman
2010-03-23 15:44:50
"aku udah baca cerpennya
"
[Kirim Komentar]