Login User

 Telaah

Kalau....

Oleh : Amir Hamzah

Pena sejarah nusantara kita telah melukis dan tintanya telah lama kering “mengkristal” diusap semilir sepoi bayu melintas di persada kawasan lenggang Jalan Pegangsaan Timur lima puluh enam, di jantung kota, ibukota Indonesia.

Kumandang suaranya telah menyentuh gendang telinga yang telah lama budek dalam sunyi lembah hunian Suku Asmat, Suku Dani, Mentawai, Badui Dalam, Banten Selatan, Lhokseumawe, Lembah Ani, Danau Maninjau, Samosir, Toba, Mandailing, Tarutung bahkan memperangah Jhon Kennedy di atas singgasana gedung putih.

Putra Sang Fajar dengan lantang membaca tulisan tangannya sendiri :

Proklamasi, kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia; hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Sukarno-Hatta

Seluruh putra bangsa berteriak latah; Merdeka, merdeka, merdeka, air mata, merdeka darah, merdeka nyawa di alam barzakh, merdeka haru, merdeka, Haiya, merdeka yaa, si acong-amoy pun berteriak merdeka. Si butet dan ucok, si buyung dan si upik, si Nyai dan si Ujang, la one dan la siwe, hanyut terbawa arus gemuruh suara merdeka.

Generasi '45 pejuang kemerdekaan itu, generasi '66 mempertahankan kemerdekaan itu, generasi orde baru mengkhianatinya, generasi reformasi bingung menetralisirnya dalam sejuta tanda tanya: kalau merdeka? Merdeka kalau? Merdeka?....

Kalau Marsinah berubah status bersama asam sulfat, kalau petani Karawang hanya menjadi kuli cangkul di tanahnya sendiri, kalau Nurlaila jadi tukang sapu di rumahnya sendiri, kalau Mang Ujang jadi tukang kebon di kebunnya sendiri, kalau semua kita menjadi tamu di rumah kita sendiri, kalau ibu-ibu muda hamil tua mati muda di ruang gawat darurat RSCM, kalau Rianto gantung diri dengan tangannya sendiri lantaran tak mampu bayar sekolah negeri tinggi, kalau tersangka maling-maling ayam mati di bakar di kandang tanpa ayam, kalau Akbar divonis tanpa eksekusi, kalau luka-luka bom Bali belum sempat sembuh, telah menyerahkan tongkat estafetnya jadi bom Marriot, lagi-lagi estafet di kawasan elit Kuningan, kalau cucu dan cicit Cut Nyak Dien masih sembunyi ketakutan menapak Jalan Thamrin ibukota Indonesianya??? Sudahkah? Pantaskah? Sudah pantaskah? Pantas sudahkah? Relevankah? Kita ikut-ikutan latah berteriak merdeka?

——» Komentar «——

arif rahman hakim
2010-03-01 23:57:55
"

MERDEKA.....!!!

 

"

[Kirim Komentar]