Login User

 Telaah

Imajinasi, Meditasi, Permainan

Oleh : Redaksi

Oleh Sulaiman Djaya

Sebagai seorang pembaca, saya selalu bersyukur dengan kesegaran perkembangan kesusasteraan puisi Indonesia, terutama puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair muda, sebagian bahkan masih duduk di sekolah menengah, ketika saya membaca puisi-puisi mereka yang lincah dan tangkas dalam mengekspresikan penuturan dan pengungkapan, yang adakalanya menggelitik dan mengejutkan, dan adakalanya membuat saya mendapatkan kesenangan. Puisi-puisi mereka, meski masih belum terlepas sepenuhnya alias masih mewarisi gaya dan metode penuturan sebelumnya, saya tetap merasakan dan mendapatkan kekhasannya. Terlebih sampai ini saya memang masih mempercayai bahwa imajinasi, meditasi, dan permainan memang dapat menjadi wawasan puisi, yang entah kenapa, selalu bisa digali dan tak lekang.

Ada puisi-puisi yang sanggup menjadikan ketiga wawasan tersebut dalam satu waktu, tetapi ada puisi-puisi yang lebih dominan salah-satunya saja di antara ketiga khasanah dan wawasan yang saya maksudkan. Khasanah dan wawasan yang akan menciptakan dan membangun dunia puisi dan ekspresi-ekspresi pengungkapan dan penuturannya di satu waktu menjadi kritik dan parodi, dan di waktu yang berbeda menjadi perenungan yang bisu. Bahkan ada puisi-puisi yang memang disengajakan hanya untuk mengeksplorasi permainan itu sendiri dengan maksimal sekedar untuk membangkitkan kesenangan dan hiburan itu sendiri dengan mengenyampingkan tendensi menjadi puisi meditatif. Semuanya tentu saja akan memberikan dan memungkinkan kuriositas baru dalam kadar dan wilayahnya masing-masing.

Meski demikian, yang memang sangat berperan besar adalah unsur imajinasi dan fantasi, di mana dengannya sebuah teks puisi menjadi sedemikian terbuka untuk dimaknakan apa saja oleh pembacanya dan dalam konteks apa saja, tanpa mesti terikat oleh alasan dan dalih proses kreatif seorang penyair yang lebih sering digunakan hanya sebagai dalih atau penokohan diri penyairnya, ketimbang berusaha untuk menyimak apa yang hendak dikatakan, digambarkan, dan diceritakan oleh teks puisi itu sendiri.

Adapun saya sendiri, setidak-tidaknya sampai saat ini, masih mempercayai bahwa sebuah puisi tidak semata-mata permainan untuk penghiburan an sich, tetapi juga mestilah memiliki daya meditatif yang mampu menghindari jebakan artifisialisme permainan yang seringkali kehilangan daya gugah yang hening, bila sebuah puisi semata-mata memaksudkan dirinya sekedar to entertain pembacanya tanpa memiliki daya gugah untuk menggali dunia bathin yang paling sepi dari yang sublim, sebab setelah itu menjadi biasa setelah kita membacanya, tidak bertahan lama dan akan cenderung lekang oleh permainan dan entertain-entertain yang lebih renyah lainnya dan yang akan datang kemudian, hingga ia tak lagi memiliki “sesuatu yang tersembunyi” yang akan membuat sebuah puisi tetap memiliki sesuatu yang selalu ingin kita gali, sebuah enigma dan misteri yang membuat kita tercekam dan terpesona sampai kita selalu diajak untuk selalu membacanya kembali.

2
Dalam pemahaman saya, puisi ditulis sebagai upaya dan ikhtiar untuk mengatakan banyak hal secara bersamaan, menyiapkan dirinya untuk berbagai kemungkinan pembacaan. Puisi menurut saya lebih dimaksudkan bukan sebagai sebuah simpulan atau pun dalil-dalil yang jelas, tetapi lebih merupakan teks yang selalu membiarkan dirinya terbuka bagi rasa ingin tahu dan ambiguitas, karena ia bukanlah sosiologi atau pun sains politik. Ia ditulis lebih sebagai upaya untuk melahirkan dan memancing minat kepekaan tentang keseharian, harapan, dan kerinduan bathin dan kesepian manusia itu sendiri kepada pembacanya.

Di sisi lain, yang tentu saja masih dalam kadar pemahaman dan kepercayaan saya, kategori religius dan non-religius untuk memandang sebuah puisi hanya akan mempersempit minat kuriositas kita sebagai pembaca untuk menyelami apa yang hendak dituturkan dan diungkapkan sebuah puisi. Bahkan jikapun ada yang masih mempercayai sebuah kategori puisi religius, bagi saya bukan karena puisi yang dimaksudkan dalam bait-baitnya menyebut nama Tuhan, karena sepanjang pengalaman saya sebagai seorang pembaca, puisi-puisi yang seolah-olah atheis, menggugat, dan menyuarakan kesangsian lebih mampu membuat saya merenungkan kembali apa yang selama ini saya percayai tanpa pemeriksaan dan pengintiman, ketimbang sebuah puisi yang rajin mengumandangkan nama Tuhan tapi miskin renungan dan yang kemudian mampu menyingkapkan dunia-dunia keintiman yang entah kenapa saya abaikan, dan lalu saya sadar setelah membaca puisi yang saya maksud. 

Meski demikian, meditasi puisi bukanlah meditasi yang menghendaki dirinya untuk menyimpulkan dan menjawab. Estetika meditatif puisi adalah ikhtiar untuk selalu bertanya tanpa harus menemukan jawaban dan kesimpulan. Meditasi puisi adalah meditasi yang mengkayakan dirinya dengan wawasan permainan dan imajinasi yang membuatnya terbuka bagi sejumlah pencarian dan pembacaan. Imajinasi dan permainan memberinya kebebasan dan kekayaan perspektif untuk mengemukakan dan menghadirkan dirinya kepada pembaca. 

Berdasarkan wawasan epistemik pemahaman saya tersebutlah sepanjang pembacaan saya hingga ketika saya menulis komentar ini, karya-karya puisi mutakhir Indonesia, terutama yang ditulis para penyair muda, memang memberikan perspektif yang lumayan segar dengan menggali tema-tema keseharian yang seringkali remeh, meski dari segi bentuk penuturan dan gaya permainannya bisa dikatakan masih menunjukkan kecenderungan epigonal alias meniru saja dari karya-karya penyair sebelumnya yang mereka baca dan yang mereka senangi. Bahkan sebagiannya lebih cenderung jatuh pada artifisialisme permainan semata tanpa memberikan ruang-ruang baru bagi kemungkinan-kemungkinan dunia-dunia meditasi dan fantasi yang mampu membuat saya ingin menyelami dan menggali apa yang hendak dikatakan oleh rahim-rahim bahasa itu sendiri justru ketika rahim-rahim bahasa menyembunyikannya karena fantasi yang ditawarkan dan dihadapkannya kepada saya sebagai pembaca.

****
Sebab dalam pemahaman dan kepercayaan saya, permainan yang mengabaikan kiasan dan peminjaman alam malah hanya akan terjebak pada verbalisme dalam bentuknya yang lain, bahasa yang hanya sekedar menjadi fungsi retorik, bukannya bahasa yang menciptakan dunia-dunia, kemungkinan-kemungkinan, dan fantasi-fantasi yang membuat puisi mampu melahirkan pembacaan yang tak selesai dan tak ingin disimpulkan, justru karena ia menginginkan dirinya lebih merupakan sebuah rumah tak berpenghuni dengan sebuah pintu di depannya yang selalu terbuka untuk setiap pengunjung dan pembaca.    

//
Sulaiman Djaya, 2010. Penggiat Kubah Budaya dan Sekretaris Umum Komunitas Sebelas Banten.

——» Komentar «——

Sulaiman Hasan Djajadiningrat
2010-02-15 15:31:19
"Silahkan kunjungi web berikut: www.songsofseason.wordpress.com
"

[Kirim Komentar]