Telaah
Seberapa Cepat Anda Lupa? Wah!
Oleh : Irwan Pachrozi Ratu Bangsawan
Pernahkah Anda lupa? So pasti pernah, dong! Pernahkah Anda berpikir apa saja yang telah Anda bicarakan dan/atau lakukan pada hari ini, tapi Anda lupa apa saja yang telah dibicarakan dan/atau lakukan. Loh?
Menurut penelitian, 70% apa yang telah kita lakukan dalam waktu 24 jam akan hilang dari memori jika kita tidak melakukan upaya khusus untuk mengingatnya. Nah, itu baru dalam waktu 24 jam. Sekarang, berapa sih usia kita? 30 tahun? 40 tahun? 50 tahun? Jadi, berapa banyak hal yang telah hilang dari dari memori kita, ya?
Mengapa saya kok membicarakan hal yang 70% itu? Kayaknya mau nakut-nakuti saja. Bukan begitu maksud saya. Maksud saya begini: saya ingin menjelaskan mengapa begitu banyak orang yang telah melakukan kesalahan, tetapi masih bisa diterima masyarakat. Bahkan, ada yang jadi ketua RT, Ketua RW, kepala desa, lurah, camat, bupati, gubernur, menteri, anggota DPR/DPD/DPRD, dan seterusnya, dan sebagainya.
Hal tersebut terjadi karena 70% memori kita dan memori anggota masyarakat telah hilang karena faktor lupa. Jadi, kita tetap memilih dan percaya pada orang yang track recordnya nggak oke. Iya, kan? Tapi, seberapa cepat memori kita hilang? Mari kita mengeceknya:
1. Sebutkan 5 teman SD Anda dalam 15 hitungan!
2. Sebutkan 10 teman SMP Anda dalam 10 hitungan!
3. Sebukan 15 teman SMA Anda dalam 5 hitungan!
4. Apa yang Anda lakukan pertama kali ketika bangun tadi pagi?
Anda bisa menjawabnya dengan cepat dan tepat? Saya nggak yakin, tuh!
Saudara-saudara, oleh sebab itulah kita perlu upaya khusus untuk mencegah keroposnya memori kita. Caranya? Banyak berpikir, berdiskusi, melihat, mendengar, dan mendokumentasikan kegiatan Anda.
Pertanyaan berikutnya: bagaimana cara mengatasi keroposnya memori masyarakat? Gampang, libatkan saja institusi masyarakat yang layak dipercaya, seperti ICW dan YLKI. Dengan memberikan kepercayaan kepada institusi seperti tersebut di atas, maka masyarakat akan selalu direcall ingatannya tentang track record calon anggota DPR, misalnya. Jangan sampai karena memori masyarakat keropos, orang-orang yang jelas-jelas tidak amanah, malah terpilih menjadi menteri pada kabinet Pak SBY nanti. Bisa berabe, kan? Wah!!!
——» Komentar «——
[Kirim Komentar]