Cerpen Pilihan Pekan Ini
An unfinished work
Oleh : hartono
Berangkat dua jam lebih awal. pulang tiga jam lebih lambat. 180 unit per hari, bahkan kadang bisa mencapai 200 unit lebih. Pekerjaanku saat ini adalah menjadi tukang las kontrak sebuah perusahaan PMA produsen mobil nomor satu di dunia yang menguasai 40% market share industry otomotif di tanah air. Sebuah merek mobil keluarga yang sudah melekat kuat di benak sebagian besar masyarakat kelas menengah ke atas di negeri ini. Dan memang tiada duanya.
Pekerjaan utamaku adalah memasang smallpart ke siderail frame, lalu mengelasnya. 12 jam perhari, 6 hari perminggu, 26 hari perbulan. Suatu pekerjaan yang amat sangat membosankan sekali dan cukup melelahkan, sebab aku harus terus-menerus mengulang-ulang proses yang sama berkali-kali.
Semua itu kadang membuat aku lupa bahwa yang perlu diisi bukan Cuma dompet dan perut. Pikiran, hati, dan jiwa juga perlu diisi. Tetapi aku tidak pernah bisa menemukan sesuatu atau seseorang yang bisa memenuhi itu semua di tempat ini. Menurut pendapatku-yang cuma lulusan sekolah menengah kejuruan ini-sekarang pabrik hanyalah sekedar tempat untuk menukar keringat dengan recehan. Pabrik adalah salah satu simbol industrialisasi oleh kapitalisme, mesin uangnya para industrialis-kapitalis, buruh kontrak maupun tetap adalah sekrupnya, dan birokrat-birokrat korup adalah kompradornya. Sebuah analogi yang sempurna.
Atas nama idealisme masa muda, kenakalan intelektual, dan kekurangajaran ilmiah, aku melakukan pembangkangan kecil ini untuk mengawali suatu perlawanan yang lebih besar lagi nantinya. Malam ini aku akan mangkir kerja. Mungkin ini akan menjadi sebuah kemenangan kecil yang patut untuk dibanggakan.
Setelah turun dari bus jurusan karawang-uki-bogor di tol jatibening, aku langsung melanjutkan perjalananku dengan naik bus patas AC 24 jurusan bekasi-senen. Karena tidak mendapatkan tempat duduk akhirnya aku terpaksa berdiri. Pagi ini bahkan jalan tol pun macet sekali-padat merayap.
Sengaja kutebarkan pandanganku ke segala arah, sampai akhirnya kedua mataku terpaku pada sebentuk wajah yang mengingatkan aku pada sebuah mahakarya yang pernah dipuja sebelum masehi. Sambil mengumpulkan keberanian dan menyalakan nyali untuk membuka percakapan dengannya, kunikmati saja terus pesona keindahan makhluk betina yang belum kuketahui namanya itu. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap inci lekuk tubuhnya adalah wujud dari kesempurnaan penciptaan.
Tiba-tiba dunia di sekitar tampak luruh lenyap terserap oleh eksistensimu. Seperti sebuah Supermassive black hole yang menelan segala keberadaan di sekelilingnya. Kaulah pusat alam semesta raya dan aku hanya jagad raya kecil yang mengorbit mengelilingimu.
Keterdesakan artifisial yang tercipta di alam bawah sadarku akhirnya menerbitkan keberanianku untuk sedikit berbasa-basi demi mengawali sebuah dialog panjang yang penuh spontanitas.
“turun dimana?”
“di Kramat.”
“kuliah di BSI, ya?”
“iya.”
“Semester berapa?”
“Oh, gue udah lulus. Tinggal nunggu wisudanya aja. Hari ini gue cuma mau ambil toga buat wisuda nanti.”
“gue hartono.” Segera kuulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
“Eva.”
Singkatan dari: Esta Vidya Anugrah sebagaimana tertera di kartu undangan wisudamu yang kau tunjukan kepadaku sewaktu kita browsing di warnet dekat kampusmu.
Mungkin masih terlalu pagi untuk makan siang dan sudah terlalu siang untuk sarapan. Bahkan Solaria pun baru saja buka dan masih sepi pengunjung.
Perut kosong sejak pagi. Terakhir kali diisi jam 12 malam tadi. Tapi aku benar-benar tak ada selera untuk makan apapun. Inilah salah satu bentuk ketololan yang timbul jika suasana hatiku terlalu senang. Kecerobohan yang sebenarnya bisa dihindari. Atau nafsu makanku yang berganti menjadi nafsu yang lain. Hatiku penuh kau, jiwaku penuh kau. Perut kosong, ‘Ku tak peduli. Hanya segelas cappuccino dingin yang habis kuminum.
Film adalah tiruan paling sempurna dari kehidupan. Banyak film terinspirasi oleh kehidupan nyata seseorang, begitupun sebaliknya banyak juga kehidupan nyata seseorang yang terinspirasi oleh sebuah film. Dan ternyata kita berdua saat ini sangat ingin menonton sebuah film yang sama.
Jadwal pemutaran film yang ingin kita tonton masih satu jam dari sekarang. Aku mengajakmu ke sebuah tempat dimana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya-toko buku. Tidak seperti kebanyakan anak muda lainnya yang memilih kafe atau resto favorit sebagai The Third Place mereka. Aku memilih toko buku sebagai My Third Place, setelah rumah dan pabrik.
Aku merasakan chemistry yang luar biasa ketika kau dan aku membahas tentang banyak hal, mulai dari buku, film, sampai mencari nama apa yang paling cocok untuk menamai anak sahabatku yang sekarang tengah hamil muda. Lagipula tujuan kita ke toko buku memang untuk membeli buku ensiklopedi kecil nama-nama anak dari berbagai bahasa di dunia disertai artinya. Kita berdua bahkan sempat mampir ke Disctarra untuk membeli album Padi terbaru, meskipun agak terburu-buru.
Karena terlalu menikmati film yang sedang diputar dan dimabuk derai-derai tawamu yang menyejukkan hati, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa sesuatu sedang berkecamuk di dalam perutku. Penyakit yang sudah bertahun-tahun lamanya bersarang di sana. Tetapi aku berusaha untuk tetap kelihatan baik-baik saja, meskipun rasa sakit itu semakin hebatnya. Aku coba menghilangkan rasa sakit itu dengan tablet sakit maag yang biasa kuminum setiap maagku kambuh.
Dan naluri perempuanmu sepertinya dapat merasakan apa yang kurasakan saat ini-rasa sakit yang melemahkan tubuhku. Kau memintaku untuk duduk menunggu di bawah eskalator, lalu kau segera menuju kedai roti breadtalk dan rela antri selama jutaan detik demi seorang pria sekarat yang baru saja kau kenal beberapa jam yang lalu.
Orang lain mungkin hanya melihat sepotong roti, tapi dimata orang yang sedang sekarat seperti aku rasanya seperti melihat kehidupan itu sendiri. Dan kau tampak bagai bidadari dari kerajaan surga yang datang untuk menyelamatkan jiwaku.
Sebenar-benarnya aku sangat ingin mengantar kau pulang sampai ke rumah, tetapi tubuhku yang semakin tak berdaya menahan sakit ini hanya mampu mengantar kau naik angkutan umum. Sejenak aku teringat pada sajak-sajak Chairil Anwar.
Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal dicerlang cahya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus diapi matamu
‘ku kayak tidak tahu saja
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah jauh dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.
Gerimis membasahi malam. Sebasah jiwaku yang dihujani pesonamu. Aku berteduh di hati Tuhan.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua adalah dilahirkan, tetapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua, tetapi dalam kesia-sian. Berbahagialah mereka yang mati muda.
Alexander the great, Kurt cobain, Jim Morrison, R. A. Kartini, Chairil Anwar, Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib. Mereka mati muda, bahkan sebelum usia mereka mencapai tiga puluh tahun. Aku menyusul mereka. Menuju ke keabadian.
Scripta manent verba volant.
——» Komentar «——
[Kirim Komentar]